INSIBERNEWS – Deretan bencana banjir dan longsor yang menimpa Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dalam beberapa pekan terakhir memantik keprihatinan banyak pihak. Salah satu suara yang cukup keras datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri, KH. Abdurrahman Al Kautsar atau yang akrab dikenal sebagai Gus Kautsar.
Ia menilai bencana yang menelan ratusan korban itu bukan hanya persoalan cuaca ekstrem, tetapi akumulasi dari kerusakan alam yang dibuat manusia sendiri.
Baca Juga: Aturan Baru OJK Soal Penjatahan IPO: Porsi Ritel Kini Diperbesar, Akses Investor Kecil Makin Terbuka
Gus Kautsar menegaskan bahwa laju deforestasi, praktik pembalakan liar, serta eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam telah menghilangkan daya tahan lingkungan. Ketika hujan besar datang, tanah yang sudah rapuh tak lagi mampu menopang, sehingga longsor dan banjir besar menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
“Musibah ini bukan tiba-tiba jatuh dari langit. Ada jejak tangan manusia di sana,” ucapnya dalam sebuah kesempatan ketika menanggapi bencana bertubi-tubi yang terjadi awal Desember ini.
Menurutnya, perilaku yang merusak alam bukan hanya melanggar etika sosial, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai penjaga bumi. Ia menekankan bahwa seorang Muslim seharusnya menghadirkan rasa aman bagi sesama makhluk, bukan menjadi sumber kerusakan.
Baca Juga: Aceh Dilanda Banjir Besar, Seruan HUT GAM Didesak Jadi Momen Menahan Diri
“Muslim yang baik adalah mereka yang membawa kedamaian. Bukan mereka yang membuat orang lain merasa terancam, apalagi merusak alam yang menjadi tempat hidup bersama,” tegasnya.
Gus Kautsar juga menyebut bahwa bencana yang saat ini melanda beberapa provinsi seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat untuk menghentikan praktik yang merusak ekosistem.
Ia meminta agar negara hadir lebih tegas dalam menangani perizinan tambang, logging ilegal, serta aktivitas ekonomi yang mengancam kelestarian hutan.
Tak hanya itu, ia mendorong agar pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penyembuhan lingkungan yang selama ini diabaikan.
Rehabilitasi hutan, penguatan kawasan penyangga, dan edukasi lingkungan bagi masyarakat disebut sebagai langkah yang harus dilakukan secara menyeluruh.
Gus Kautsar juga mengingatkan bahwa musibah akan terus berulang jika bangsa ini hanya meratap setiap kali bencana datang, tanpa mengubah pola pikir dan perilaku dalam memperlakukan alam. Menurutnya, tanggung jawab menjaga bumi adalah amanah moral, sekaligus kewajiban agama.
Artikel Terkait
Kembali Berduka! Aktor Senior Epy Kusnandar Pemeran Kang Mus di Preman Pensiun Tutup Usia
Mahfud MD Soroti Akar Kisruh NU, Dinamika Organisasi Disebut Jauh dari Spirit Keulamaan
Prabowo Siap Tambah Anggaran, Pemerintah Pastikan TNI–Polri All Out Tangani Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Demi Jemput Warga Terisolir, Prajurit TNI AD Pikul Berton-ton Logistik Menembus Hutan Sitahuis
PNM Hadirkan Fitur Aksesibilitas Digital, Rayakan Hari Disabilitas dengan Langkah Inklusif yang Lebih Nyata
Atasi Gangguan Distribusi, Menteri ESDM Izinkan Beli BBM Subsidi Tanpa Barcode di Wilayah Bencana
Dari Lapangan Migas ke Kursi Menteri: Kisah Lika-Liku Purbaya yang Pernah Tak Tidur 5 Hari
Banjir-Longsor di Tapteng: Tiga Korban Kembali Ditemukan, Warga Terisolir Mulai Kehabisan Bahan Makan
Aceh Dilanda Banjir Besar, Seruan HUT GAM Didesak Jadi Momen Menahan Diri
Aturan Baru OJK Soal Penjatahan IPO: Porsi Ritel Kini Diperbesar, Akses Investor Kecil Makin Terbuka