Aceh Dilanda Banjir Besar, Seruan HUT GAM Didesak Jadi Momen Menahan Diri

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Kamis, 4 Desember 2025 | 14:44 WIB
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem (Foto : ist)
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem (Foto : ist)

INSIBERNEWS – Gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh beberapa hari terakhir membuat situasi di lapangan kian memprihatinkan. Bupati dari Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, hingga Aceh Selatan serempak menyampaikan bahwa kemampuan daerah sudah tak lagi mencukupi untuk menangani dampak bencana yang luas.

Minimnya logistik, terputusnya akses jalan, dan jaringan komunikasi yang lumpuh membuat penanganan darurat harus segera diperkuat dari pusat.

Baca Juga: Banjir-Longsor di Tapteng: Tiga Korban Kembali Ditemukan, Warga Terisolir Mulai Kehabisan Bahan Makan

Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memastikan pemerintah pusat mengambil alih distribusi bantuan secara penuh, terutama untuk wilayah-wilayah yang tidak dapat dijangkau lewat jalur darat.

Bantuan makanan, obat-obatan, tenda, serta perlengkapan darurat lainnya akan dikirim lewat jalur udara dari Jakarta dan Medan untuk mempercepat penyaluran kepada warga terdampak.

Di sisi lain, Gubernur Aceh Mualem menggambarkan situasi bencana kali ini sebagai salah satu yang paling berat sejak rehabilitasi pasca-tsunami. Ia menahan haru ketika menjelaskan betapa banyak jembatan putus, rumah hanyut, dan ribuan warga mengungsi tanpa kejelasan kapan bisa kembali ke rumah mereka.

Baca Juga: Atasi Gangguan Distribusi, Menteri ESDM Izinkan Beli BBM Subsidi Tanpa Barcode di Wilayah Bencana

Dalam kondisi darurat seperti ini, pengamat intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra—yang pernah bertugas bertahun-tahun di Aceh—menyampaikan pandangan yang cukup menohok soal rencana sebagian kelompok yang tetap ingin merayakan HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember.

Ia menilai bahwa perayaan simbolik semacam itu tidak selaras dengan kondisi lapangan yang sedang berjuang menghadapi bencana besar.

“Peringatan milad GAM pada 4 Desember 2025, pasca bencana alam, hendaknya dijadikan momentum introspeksi dalam menata kembali kehidupan rakyat Aceh yang lebih mengedepankan kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem,” ujarnya.

Baca Juga: Demi Jemput Warga Terisolir, Prajurit TNI AD Pikul Berton-ton Logistik Menembus Hutan Sitahuis

Sri Radjasa menekankan bahwa tindakan mengimbau masyarakat untuk mengibarkan bendera GAM di tengah kondisi warga yang kekurangan makan, pakaian, dan tempat tinggal, bukanlah sikap yang mendahulukan kemanusiaan.

“Seruan pengibaran bendera GAM di tengah penderitaan rakyat Aceh akibat bencana alam tentu menjadi tidak bijak, mengingat saat ini rakyat Aceh jauh lebih membutuhkan sandang dan pangan,” tegasnya.

Sejumlah mantan kombatan GAM pun memberikan suara serupa. Mereka meminta para pendukung dan simpatisan untuk menahan diri, tidak terprovokasi, serta mengalihkan energi mereka untuk membantu proses evakuasi, distribusi bantuan, dan menjaga ketertiban bersama aparat TNI–Polri di lapangan.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X