INSIBERNEWS - Sebuah perusahaan rintisan asal Tiongkok, Lonvi Biosciences, kembali menghangatkan perbincangan soal masa depan kesehatan manusia.
Startup yang bergerak di bidang longevity dan biosains itu mengumumkan temuan yang mereka sebut sebagai “pil panjang umur”—sebuah suplemen yang diklaim mampu memperpanjang usia manusia hingga menembus 150 tahun.
Baca Juga: Hadirkan Layanan 'Jemput Bola', AgenBRILink di Riau Ini Permudah Kebutuhan Transaksi Warga
Lonvi menyatakan formula yang mereka kembangkan menargetkan sel-sel menua yang berhenti membelah atau dikenal sebagai senescent cells. Sel-sel ini biasanya menumpuk seiring bertambahnya usia dan menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari inflamasi kronis hingga percepatan proses penuaan.
“Ini bukan cuma pil baru yang numpang lewat. Komponen utamanya bekerja di tingkat sel, bukan hanya menambah umur panjang, tapi juga memperbaiki kualitas kesehatan tubuh untuk jangka panjang,” ujar CEO Lonvi, Ip Zhu, seperti dikutip dari Oddity Central.
Baca Juga: Sempat Curi Emas, Polisi Tetapkan Mantan Sopir sebagai Tersangka Pembakaran Rumah Hakim PN Medan
Pihak perusahaan menyebut bahwa gagasan hidup hingga usia 150 tahun bukan lagi fantasi ilmiah. Mereka optimistis produk ini bisa tersedia untuk publik dalam beberapa tahun mendatang, setelah rangkaian uji keamanan dan efektivitasnya dinyatakan layak.
Formula yang mereka gunakan berfokus pada procyanidin C1 (PCC1), senyawa alami yang diekstrak dari biji anggur. Dalam berbagai penelitian sebelumnya, PCC1 dikaitkan dengan efek positif pada sistem imun, proses regenerasi sel, dan peningkatan ketahanan hidup pada hewan uji.
Baca Juga: Jadi Korban Eksibisionis Saat Lari Pagi, Wanita Ini Ngadu ke Damkar
Meski demikian, Lonvi tidak mengklaim pil ini sebagai satu-satunya kunci untuk mencapai usia super panjang. Para ilmuwan menekankan bahwa konsumsi PCC1 hanya optimal bila dibarengi gaya hidup sehat seperti pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, serta perawatan medis yang konsisten.
Pengembangan obat anti-penuaan seperti ini memang sedang naik daun di dunia bioteknologi. Banyak perusahaan besar maupun startup menaruh perhatian pada terapi yang dapat memperlambat kerusakan sel dan meningkatkan vitality tubuh seiring usia.
Namun tetap saja, klaim hidup 150 tahun masih memicu pro dan kontra. Sebagian ahli mengingatkan bahwa proses penuaan sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor, sehingga satu jenis suplemen mungkin tidak cukup. Selain itu, uji coba jangka panjang pada manusia diperlukan sebelum produk seperti ini bisa dipasarkan secara luas.
Baca Juga: Likuiditas Melambat, Uang Beredar Mencapai Rp9.783 Triliun pada Oktober 2025
Terlepas dari itu, lonjakan inovasi di bidang longevity memperlihatkan ambisi manusia untuk bukan hanya hidup lebih lama, tetapi hidup lebih sehat hingga usia lanjut. Dan jika klaim Lonvi Biosciences terbukti, masa depan kesehatan bisa mengalami perubahan drastis dalam dekade mendatang.***
Artikel Terkait
Veloz Hybrid Resmi Meluncur, Toyota Mulai Babak Baru Elektrifikasi MPV Keluarga di Indonesia
Pedagang Thrifting Kecewa Berat, Menkeu Tegaskan Impor Barang Ilegal Tak Akan Pernah Dilegalkan
Bahlil Sebut Polisi dan Jaksa Aktif Bantu Kementerian ESDM, Hormati Putusan MK Soal Penugasan di Jabatan Sipil
Likuiditas Melambat, Uang Beredar Mencapai Rp9.783 Triliun pada Oktober 2025
Baru Seminggu Jalan, Lapor Menaker Sudah Terima Ratusan Aduan soal Pelanggaran Ketenagakerjaan
Jadi Korban Eksibisionis Saat Lari Pagi, Wanita Ini Ngadu ke Damkar
Soal Kenaikan Gaji PNS 2026, Kemenkeu Pertimbangkan Produktivitas ASN dan Kondisi Fiskal
Bongkar Selundupan Pakaian Bekas dari Luar Negeri, Polisi Sebut Asal Barang dari Korea, China, Jepang
Sempat Curi Emas, Polisi Tetapkan Mantan Sopir sebagai Tersangka Pembakaran Rumah Hakim PN Medan
Hadirkan Layanan 'Jemput Bola', AgenBRILink di Riau Ini Permudah Kebutuhan Transaksi Warga