INSIBERNEWS - Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan tren thrifting atau membeli barang impor bekas yang tengah digemari. Menurutnya, praktik ini justru bisa menekan kinerja dan keberlangsungan industri dalam negeri jika tidak dikendalikan.
Febri menjelaskan, membanjirnya produk impor (termasuk pakaian bekas) membuat produk buatan lokal kehilangan tempat di pasar domestik. Hal ini berdampak langsung pada penurunan utilisasi pabrik dan berisiko menurunkan daya saing industri nasional.
“Banyak produk impor yang masuk, dan itu menekan industri kita. Banyak barang buatan dalam negeri akhirnya tidak terserap pasar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/11).
Ia menambahkan, meski dari sudut pandang konsumen harga barang thrift memang jauh lebih terjangkau, namun dampak jangka panjangnya bisa merugikan ekonomi nasional. Industri kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat berpotensi kehilangan pasar jika masyarakat terus memilih produk impor murah.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Indonesia dan Australia Harus Jadi Tetangga yang Saling Menguatkan
“Memang kalau dilihat, thrifting bisa hemat. Tapi kalau terus dibiarkan, industri lokal kita bisa mati pelan-pelan. Ini bukan hanya soal harga, tapi soal keberlangsungan ekonomi,” tegas Febri.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa sebagian besar produk thrift yang beredar di pasaran tidak melalui proses standar kebersihan dan keamanan yang jelas.
Padahal, regulasi di Indonesia secara tegas melarang impor pakaian bekas untuk dijual kembali, karena dapat membawa risiko kesehatan dan menyalahi aturan perdagangan.
Baca Juga: BRIN Ungkap Hasil Uji Vape: Kandungan Zat Berbahaya Lebih Rendah dari Rokok Konvensional
Kemenperin juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap produk buatan dalam negeri. Menurut Febri, dengan membeli produk lokal, masyarakat sebenarnya ikut membantu ribuan pekerja dan pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidupnya di sektor industri.
“Membeli produk lokal itu artinya kita ikut menjaga keberlangsungan industri nasional, dan membantu saudara-saudara kita yang bekerja di dalamnya,” tuturnya.
Ia berharap tren thrifting tidak lagi hanya dilihat dari sisi gaya hidup atau harga murah, tetapi juga dari sisi dampak ekonomi dan keberlanjutan. Pemerintah sendiri tengah memperkuat pengawasan impor serta mendorong kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap produk lokal.
Artikel Terkait
BGN Buka Suara Soal Akun Instagramnya Digerubuk Petugas MBG Karena Telat Membayar
Elham Yahya Pimpinan Majelis Yang Viral Karena Cium Anak Perempuan Saat Ceramah, Klarifikasi Sebut Anak Tersebut Dalam Pengawasan Orang Tua
KPAI Soroti Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta, Singgung soal Kesehatan Mental di Sekolah
ABH Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Dipastikan Polisi Tidak Terhubung dengan Jaringan Terorisme
Bukan dalam Waktu Dekat, Begini Kata Danantara dan Menkeu Purbaya Soal Redenominasi Rupiah
Kembali Gencar Berantas Korupsi, ICW: KPK Seperti Baru Bangun dari Tidur
Puan Maharani Bahas Investasi Hijau dan Kolaborasi Budaya Saat Bertemu Ketua Parlemen Korsel di Seoul
BRIN Ungkap Hasil Uji Vape: Kandungan Zat Berbahaya Lebih Rendah dari Rokok Konvensional
Prabowo Tegaskan Indonesia dan Australia Harus Jadi Tetangga yang Saling Menguatkan
Prabowo dan PM Australia Sepakati Perjanjian Keamanan Baru, Tanda Era Baru Hubungan Strategis Dua Negara