Jokowi Anggap Wajar Pro-Kontra Soeharto dan Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan, Tegaskan Semua Pemimpin Punya Jasa

Photo Author
- Jumat, 7 November 2025 | 09:15 WIB
Jokowi Soroti isu tentang Soeharto dan Gus Dur yang diusulkan untuk dijadikan Pahlawan (Foto : instagram/jokowi)
Jokowi Soroti isu tentang Soeharto dan Gus Dur yang diusulkan untuk dijadikan Pahlawan (Foto : instagram/jokowi)

INSIBERNEWS - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, akhirnya buka suara soal wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada dua mantan Presiden RI, Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, setiap pemimpin memiliki jasa dan kontribusi bagi bangsa yang semestinya dihargai, tanpa terkecuali.

“Setiap pemimpin, baik itu Presiden Soeharto maupun Presiden Gus Dur, pasti memiliki peran dan jasa terhadap negara. Kita semuanya harus menghargai itu,” ujar Jokowi kepada wartawan di Solo, Kamis (6/11/2025).

Baca Juga: Mahfud MD Nilai Polri di Titik Terendah, Desak Reformasi Total dan Usul Presiden Punya Kewenangan Penuh Angkat Kapolri

Pernyataan Jokowi ini disampaikan di tengah ramainya wacana yang mencuat usai Kementerian Sosial menyerahkan daftar 40 tokoh yang diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Dalam daftar tersebut, nama Soeharto dan Gus Dur menjadi dua di antara tokoh yang paling menyita perhatian publik.

Jokowi menegaskan bahwa penetapan gelar Pahlawan Nasional bukan keputusan yang bisa diambil secara emosional. Prosesnya harus melalui kajian mendalam, pertimbangan akademis, serta rekomendasi resmi dari tim penilai.

Baca Juga: Resmi Digugat Cerai Na Daehoon, Jule Malah Pamer Foto Bareng Pria Diduga Selingkuhan

“Pemberian gelar jasa terhadap para pemimpin itu melalui proses dan pertimbangan yang ketat dari tim pemberian gelar dan tanda jasa. Jadi tidak bisa sembarangan,” jelas Jokowi.

Menanggapi adanya perdebatan publik soal kelayakan Soeharto mendapatkan gelar tersebut, Jokowi menganggap pro dan kontra adalah hal yang wajar di negara demokrasi.

“Iya, biasa saja. Dalam negara demokrasi pasti ada pro-kontra, ada yang setuju, ada yang tidak. Itu lumrah,” katanya dengan nada santai.

Baca Juga: Tiga Minggu di Nusakambangan, Ammar Zoni Curhat Tak Nyaman Gegara Susah Komunikasi hingga Satu Sel dengan Napi Teroris

Sikap Jokowi ini menunjukkan pandangan terbuka terhadap dinamika pendapat masyarakat. Ia tidak menampik bahwa setiap pemimpin memiliki sisi terang dan sisi kelam dalam perjalanan sejarahnya, namun jasa dan kontribusi mereka tetap perlu diakui secara proporsional.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyinggung filosofi Jawa Mikul Duwur Mendhem Jero, yang berarti menjunjung tinggi kebaikan pemimpin dan mengubur dalam-dalam kesalahannya. Filosofi itu, kata Jokowi, bisa menjadi dasar dalam menghormati jasa para pemimpin tanpa menutup mata terhadap sejarah.

Baca Juga: Tragis! Kebakaran Panti Jompo di Bosnia Renggut 12 Nyawa Lansia yang Tak Sempat Selamat

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X