Jokowi Bicara Soal Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Solusi Kemacetan sekaligus Dorong Ekonomi

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 07:20 WIB
Jokowi sebut Whoosh beri manfaat untuk kondisi sosial. (Instagram/jokowi)
Jokowi sebut Whoosh beri manfaat untuk kondisi sosial. (Instagram/jokowi)

INSIBERNEWS - Joko Widodo buka suara terkait polemik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh yang kini tengah menghadapi tantangan utang sebesar Rp116 triliun.

Jokowi menegaskan, proyek ambisius ini sejatinya lahir sebagai jawaban atas masalah kemacetan yang sudah bertahun-tahun menghantui Jakarta, Jabodetabek, dan Bandung.

“Kita harus tahu masalahnya dulu. Di Jakarta itu kemacetannya sudah parah, sejak 20–40 tahun lalu. Jabodetabek juga kemacetannya parah, termasuk Bandung,” ungkap Jokowi saat ditemui di Mangkubumen, Solo, Senin, 27 Oktober 2025.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Siap-siap Hujan Petir Siang hingga Sore

Menurut Jokowi, kerugian akibat kemacetan di Jakarta diperkirakan mencapai Rp65 triliun per tahun. Bila digabung dengan Jabodetabek dan Bandung, total kerugian sudah melampaui Rp100 triliun per tahun. Angka ini menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pembangunan transportasi publik masif.

Selain Kereta Cepat Whoosh, pemerintah juga membangun MRT, LRT, KRL, dan kereta bandara untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

Jokowi menekankan, tujuan utama adalah mengurangi kerugian sosial dan meningkatkan efisiensi waktu perjalanan masyarakat.

Baca Juga: Maut di Tempat Wisata Viral: Kentongan Raksasa 'Menghabisi' Nyawa Bocah 6 Tahun di Warung Wisata, Kopi Ingkar Janji

Presiden ke-7 RI itu kembali menegaskan bahwa transportasi umum bukan soal laba, melainkan keuntungan sosial.

“Social return of investment itu penting, mulai dari pengurangan emisi karbon, peningkatan produktivitas, berkurangnya polusi, sampai waktu tempuh yang lebih cepat. Itu semua bagian dari keuntungan sosial,” paparnya.

Jokowi menambahkan, subsidi yang diberikan pemerintah pada proyek transportasi massal bukan kerugian, melainkan bentuk investasi jangka panjang. Contohnya, MRT Jakarta yang saat ini masih menerima subsidi sekitar Rp800 miliar per tahun, diproyeksikan mencapai Rp4,5 triliun per tahun ketika rutenya lengkap.

Baca Juga: KPK Mulai Selidiki Dugaan Korupsi Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung 'Whoosh'

Perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan tersendiri. Memindahkan orang dari kendaraan pribadi ke transportasi umum tidak mudah dan membutuhkan proses bertahap.

“MRT sukses mengangkut 171 juta penumpang sejak diluncurkan, kereta cepat sudah mengangkut 12 juta orang. Ini menunjukkan pergeseran mulai terjadi meski bertahap,” jelas Jokowi.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X