INSIBERNEWS — Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara terkait polemik masuknya spageti dan hamburger dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perdebatan ini mencuat setelah ahli gizi komunitas, dr Tan Shot Yen, melontarkan kritik tajam soal menu tersebut yang dianggap tidak mencerminkan semangat kedaulatan pangan.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menegaskan bahwa spageti maupun hamburger bukanlah menu utama yang setiap hari disajikan kepada siswa.
Baca Juga: Dua Lipa Luruskan Isu Pemecatan David Levy Gegara Palestina Israel, Ini Fakta Sebenarnya!
Menurutnya, kedua jenis makanan itu hanya disajikan atas permintaan siswa, dengan frekuensi maksimal satu kali dalam sepekan.
“Anak-anak bisa request menu agar tidak bosan dengan nasi. Jadi kalau ada yang bilang ‘kok ada spageti, kok ada burger’, itu bukan makanan rutin. Hanya sebagai variasi supaya mereka tetap semangat makan,” jelas Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Nanik menambahkan, kebijakan tersebut dimaksudkan agar program MBG tidak monoton.
Baca Juga: Indonesia Berduka, Atlet Muda Gimnastik Naufal Takdir Tutup Usia Saat Latihan di Rusia
Siswa di berbagai daerah berhak menyampaikan keinginan menu, dan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan menyesuaikan dengan tetap memperhatikan kandungan gizinya.
Lebih lanjut, ia menyebut fenomena siswa meminta spageti atau burger tak lepas dari pengaruh media sosial dan televisi.
Anak-anak di daerah, kata Nanik, mungkin penasaran dengan menu yang sering mereka lihat di internet, sehingga memilih makanan tersebut ketika diberi kesempatan.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Ribuan Dapur Program Makan Bergizi Gratis Belum Kantongi Sertifikat Higienis
“Kalau anak di Papua misalnya lihat YouTube lalu ingin coba makan spageti, itu bisa dipenuhi sekali dalam seminggu. Tapi bukan berarti setiap hari menu MBG isinya burger atau spageti. Itu harus dipahami,” tegasnya.
Di sisi lain, kritik dr Tan Shot Yen tetap mengemuka. Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI pada awal pekan ini, ia menilai menu burger dan spageti tidak mencerminkan semangat penggunaan pangan lokal.
Menurutnya, justru makanan tradisional khas daerahlah yang seharusnya hadir dalam program MBG.
Baca Juga: Ibunya Hina Arie Kriting Lagi, Respon Indah Permatasari Banjir Pujian Warganet
“Saya ingin anak Papua bisa makan ikan kuah asam, anak Sulawesi bisa makan kapurung. Tapi kenyataannya dari Lhoknga sampai Papua yang dibagi burger,” ujar Tan dengan nada kecewa.
Tan juga mengingatkan soal kualitas bahan pangan yang digunakan. Ia menilai burger yang terlihat menarik di pusat bisa berbeda jauh dengan yang sampai ke daerah.
“Kalau di pusat isinya chicken katsu, di daerah malah ada yang pakai daging tipis berwarna pink yang rasanya mirip karton,” sindirnya.
Baca Juga: Sidang Ricuh! Nikita Mirzani Tunjukkan Goyangan 'Velocity' di Depan Hakim
Meski demikian, BGN menekankan bahwa prinsip utama program MBG tetap pada pemenuhan gizi seimbang.
Variasi menu, termasuk sesekali menghadirkan burger atau spageti, disebut hanya sebagai cara menjaga selera makan siswa agar program ini berjalan efektif.
Artikel Terkait
Mariah Carey Comeback, Rilis Album Baru ‘Here For It All’ Setelah Tujuh Tahun
Video Musik D4vd 'One More Dance' Tuai Sorotan, Netizen Kaitkan dengan Kasus Mayat di Tesla
THE BOYZ Batal Gelar Konser di Makau dan Taipei, Tur Dunia Berakhir di Jakarta
Warga Bekasi Heboh! Sosok Pocong Misterius Muncul di Kampung Kempes, Ada yang Kehilangan Uang Rp500 Ribu
Indonesia Berduka, Atlet Muda Gimnastik Naufal Takdir Tutup Usia Saat Latihan di Rusia
Dua Lipa Luruskan Isu Pemecatan David Levy Gegara Palestina Israel, Ini Fakta Sebenarnya!