INSIBERNEWS - Aktivitas penerbitan obligasi korporasi di Amerika Serikat langsung menunjukkan lonjakan tajam pada Kamis (18/9/2025), hanya sehari setelah Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Keputusan The Fed yang banyak ditunggu investor itu seolah menjadi sinyal kuat bagi korporasi untuk kembali agresif menggalang dana lewat pasar surat utang.
Setidaknya ada sembilan perusahaan dengan peringkat investment-grade yang melantai di pasar obligasi pada hari itu. Nilainya tidak main-main, hampir menembus USD15 miliar atau setara lebih dari Rp240 triliun jika dikonversi dengan kurs saat ini. Angka ini menjadi salah satu penerbitan harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: TKD Naik Jadi Rp693 Triliun di RAPBN 2026, Pemerintah Ingin Jaga Stabilitas Daerah
Perusahaan telekomunikasi raksasa AT&T mencuri perhatian dengan langkah berani. Mereka menerbitkan obligasi empat seri sekaligus senilai USD5 miliar.
Menurut laporan, sebagian besar dana segar itu akan diarahkan untuk melunasi utang yang segera jatuh tempo, sekaligus menopang rencana akuisisi strategis yang tengah digarap perusahaan.
Tak hanya AT&T, sektor keuangan hingga energi juga ikut ambil bagian. Beberapa bank besar AS menerbitkan obligasi untuk memperkuat likuiditas, sementara perusahaan energi memanfaatkan momentum rendahnya biaya pinjaman untuk menutup kebutuhan modal kerja hingga ekspansi proyek baru.
Baca Juga: Menkeu Ancam Cabut Anggaran Makan Bergizi Gratis Jika Serapan Lambat, Prabowo Setuju
Lonjakan penerbitan obligasi ini tidak lepas dari ekspektasi pasar yang menilai langkah The Fed memberi ruang napas baru bagi dunia usaha. Dengan suku bunga yang lebih rendah, biaya pinjaman otomatis turun sehingga perusahaan merasa lebih nyaman untuk mengakses pasar modal.
Sejumlah analis menilai, kondisi ini bisa berlanjut setidaknya hingga akhir kuartal keempat 2025. Pasalnya, investor global tengah berburu instrumen berimbal hasil stabil di tengah ketidakpastian pasar saham.
Obligasi korporasi investment-grade dianggap sebagai salah satu pilihan paling aman namun tetap menarik.
Meski begitu, ada juga catatan kewaspadaan. Beberapa ekonom mengingatkan bahwa peningkatan penerbitan obligasi bisa menambah beban utang korporasi dalam jangka panjang. Jika ekonomi global kembali terguncang, kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban bisa ikut tertekan.
Namun, bagi pelaku pasar, momentum kali ini dianggap wajar. Periode "sunyi" di awal pekan sebelum keputusan The Fed kini terbalas dengan euforia penerbitan besar-besaran. Investor pun menyambut positif, terlihat dari tingkat permintaan yang tinggi terhadap surat utang baru tersebut.
Artikel Terkait
Walikota Prabumulih, Arlan Minta Maaf Karena Telah Mencabut Jabatan Kepsek SMPN 1 Prabumulih, Akui Tidak Bisa Mengontrol Diri
Selami Dunia Content Creator, CoreLab Promedia 2025 Bakal Meluncur ke Kampus Unesa Surabaya
KPK Buru ‘Juru Simpan’ Uang Panas Dugaan Korupsi Kuota Haji, Kerugian Ditaksir Rp1 Triliun
Geger! Pria Lansia Ditemukan Tewas di Kali Sentiong, Diduga Terpeleset Saat Sendirian
AS Kembali Veto Resolusi DK PBB Soal Gaza, Kian Terpojok di Panggung Dunia
Rahasia Manfaat Konsumsi Belut untuk Pemulihan Pascaoperasi, Ternyata Punya Khasiat Mantap!
Menkeu Setujui Permintaan DPR Tambah Minyak Goreng 2 Liter untuk Bansos
Polisi Geledah Rumah Mantan Rapper D4vd atas Dugaan Kasus Pembunuhan di Tesla, Identitas Korban Terungkap
Menkeu Ancam Cabut Anggaran Makan Bergizi Gratis Jika Serapan Lambat, Prabowo Setuju
TKD Naik Jadi Rp693 Triliun di RAPBN 2026, Pemerintah Ingin Jaga Stabilitas Daerah