INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras kepada China. Kali ini, ia menyinggung soal kemungkinan pemberlakuan tarif impor baru yang bisa mencapai 200 persen, jika Negeri Tirai Bambu benar-benar membatasi ekspor magnet tanah jarang ke pasar global.
Ancaman tersebut ia sampaikan saat konferensi pers usai bertemu Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, di Gedung Putih pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Trump menegaskan bahwa AS tidak akan tinggal diam bila kebutuhan industrinya terhambat akibat kebijakan ekspor China.
Baca Juga: Saham Nissan Terjun Bebas Usai Mercedes-Benz Lepas Seluruh Kepemilikannya
“Mereka harus memberi kita magnet,” ucap Trump tegas di hadapan wartawan.
“Kalau mereka menahan, maka kita akan kenakan tarif 200 persen atau semacamnya,” lanjutnya, sembari menyebut langkah itu sebagai bentuk perlindungan terhadap kepentingan nasional AS.
Baca Juga: Usai Demo Ricuh di DPR, Komdigi Panggil TikTok dan Meta Bahas Konten Provokatif
Magnet tanah jarang atau rare-earth magnet memiliki peran vital dalam berbagai industri strategis, mulai dari otomotif listrik, teknologi militer, hingga perangkat elektronik canggih.
Meski unsur-unsurnya tersebar luas di kerak bumi, proses penambangannya dinilai rumit dan mahal, sehingga hanya sedikit negara yang mampu memasoknya dalam skala besar. China sendiri selama ini menjadi pemasok utama dunia.
Baca Juga: Tiga Kali Gugat Cerai Mental, Andre Taulany Masih Sah Jadi Suami Erin
Wacana pembatasan ekspor dari Beijing tentu saja membuat Washington waspada. Pasalnya, ketergantungan Amerika Serikat terhadap impor bahan tersebut masih cukup tinggi. Tanpa pasokan stabil, industri dalam negeri berpotensi terganggu, terutama di sektor pertahanan dan energi baru.
Langkah Trump ini dipandang sebagai bagian dari strategi “tekanan tarif” yang sudah sering ia gunakan sejak periode kepresidenannya terdahulu. Meski menuai pro dan kontra, Trump percaya cara tersebut efektif memaksa mitra dagang mengikuti kepentingan Amerika.
Baca Juga: Vidi Aldiano Buka Suara Soal Kondisi Kesehatan, Tegaskan Masih Kuat Berjuang Lawan Kanker
Di sisi lain, pengamat perdagangan menilai ancaman ini bisa kembali memicu ketegangan dagang antara AS dan China. Konflik serupa sempat mengguncang pasar global pada periode 2018–2019, ketika kedua negara saling balas menaikkan tarif impor barang bernilai miliaran dolar.
Artikel Terkait
165 Sekolah Rakyat Siap Dibuka September 2025, Gus Ipul: Akses Pendidikan Harus Merata
Pengusaha Bimbel Terlibat Kasus Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank di Jakpus, Polisi Tangkap 15 Orang
Perketat Penyaluran, Menteri ESDM Bahlil Sebut 2026 Beli Gas LPG 3 Kg Pakai NIK
Hotman Paris Ditelpon Ridwan Kamil Satu Hari Usai Tes DNA keluar, Minta Saran Terkait Kasusnya Denga Lisa Mariana
Saksi Ahli Dihadirkan Abraham Samad, Soroti Kembali Bayang Otoritarianisme di Kasus Ijazah Jokowi
Vidi Aldiano Buka Suara Soal Kondisi Kesehatan, Tegaskan Masih Kuat Berjuang Lawan Kanker
Tiga Kali Gugat Cerai Mental, Andre Taulany Masih Sah Jadi Suami Erin
Usai Demo Ricuh di DPR, Komdigi Panggil TikTok dan Meta Bahas Konten Provokatif
Spotify Hadirkan Fitur DM, Kini Bisa Chat dan Berbagi Lagu Langsung di Aplikasi
Saham Nissan Terjun Bebas Usai Mercedes-Benz Lepas Seluruh Kepemilikannya