Trump Ancam Naikkan Tarif Impor China 200 Persen Gara-Gara Magnet Tanah Jarang

Photo Author
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 14:35 WIB
Potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (foto: Istimewa)
Potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (foto: Istimewa)

INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras kepada China. Kali ini, ia menyinggung soal kemungkinan pemberlakuan tarif impor baru yang bisa mencapai 200 persen, jika Negeri Tirai Bambu benar-benar membatasi ekspor magnet tanah jarang ke pasar global.

Ancaman tersebut ia sampaikan saat konferensi pers usai bertemu Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, di Gedung Putih pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Trump menegaskan bahwa AS tidak akan tinggal diam bila kebutuhan industrinya terhambat akibat kebijakan ekspor China.

Baca Juga: Saham Nissan Terjun Bebas Usai Mercedes-Benz Lepas Seluruh Kepemilikannya

“Mereka harus memberi kita magnet,” ucap Trump tegas di hadapan wartawan.

“Kalau mereka menahan, maka kita akan kenakan tarif 200 persen atau semacamnya,” lanjutnya, sembari menyebut langkah itu sebagai bentuk perlindungan terhadap kepentingan nasional AS.

Baca Juga: Usai Demo Ricuh di DPR, Komdigi Panggil TikTok dan Meta Bahas Konten Provokatif

Magnet tanah jarang atau rare-earth magnet memiliki peran vital dalam berbagai industri strategis, mulai dari otomotif listrik, teknologi militer, hingga perangkat elektronik canggih.

Meski unsur-unsurnya tersebar luas di kerak bumi, proses penambangannya dinilai rumit dan mahal, sehingga hanya sedikit negara yang mampu memasoknya dalam skala besar. China sendiri selama ini menjadi pemasok utama dunia.

Baca Juga: Tiga Kali Gugat Cerai Mental, Andre Taulany Masih Sah Jadi Suami Erin

Wacana pembatasan ekspor dari Beijing tentu saja membuat Washington waspada. Pasalnya, ketergantungan Amerika Serikat terhadap impor bahan tersebut masih cukup tinggi. Tanpa pasokan stabil, industri dalam negeri berpotensi terganggu, terutama di sektor pertahanan dan energi baru.

Langkah Trump ini dipandang sebagai bagian dari strategi “tekanan tarif” yang sudah sering ia gunakan sejak periode kepresidenannya terdahulu. Meski menuai pro dan kontra, Trump percaya cara tersebut efektif memaksa mitra dagang mengikuti kepentingan Amerika.

Baca Juga: Vidi Aldiano Buka Suara Soal Kondisi Kesehatan, Tegaskan Masih Kuat Berjuang Lawan Kanker

Di sisi lain, pengamat perdagangan menilai ancaman ini bisa kembali memicu ketegangan dagang antara AS dan China. Konflik serupa sempat mengguncang pasar global pada periode 2018–2019, ketika kedua negara saling balas menaikkan tarif impor barang bernilai miliaran dolar.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X