Berawal dari Dapur Rumah Hingga Tembus Pasar Global, Usaha Sambal Ini Tumbuh Lewat Pemberdayaan BRI

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 23 Juli 2025 | 15:16 WIB
Berawal dari Dapur Rumah Hingga Tembus Pasar Global, Usaha Sambal Ini Tumbuh Lewat Pemberdayaan BRI (Istimewa )
Berawal dari Dapur Rumah Hingga Tembus Pasar Global, Usaha Sambal Ini Tumbuh Lewat Pemberdayaan BRI (Istimewa )

INSIBERNEWS, Jakarta - Dengan inovasi, kerja keras, dan dukungan yang tepat, Sri Kustamaji yang merupakan pemilik Pelita Lumpang Mas berhasil buktikan bahwa produk tradisional pun bisa menembus pasar modern.

Transformasi sebuah usaha keluarga menjadi merek lokal yang diperhitungkan secara nasional bukanlah perkara mudah.

Berawal dari tangan dingin sang ayah, Sri Suharto, yang merintis usaha sambal pecelnya pada awal 1990-an di Pacitan, Jawa Timur. Saat itu, proses produksi dilakukan sepenuhnya secara manual, dengan kemasan plastik sederhana dan label fotokopi.

Baca Juga: Setelah Skandal dengan Syahnaz, Rendy Kjaernett Kembali Diterpa Isu Perselingkuhan

Kemudian di awal 2000-an, tongkat estafet usaha berpindah ke Sri Kustamaji. Ia memutuskan untuk melakukan transformasi total pada kemasan, desain logo, serta variasi produknya agar lebih sesuai dengan selera pasar masa kini.

Langkah berani ini membuahkan hasil. Pelita Lumpang Mas kini menjadi salah satu produk sambal khas Pacitan yang memiliki daya saing tinggi, bahkan mampu menembus pasar nasional dengan omzet bulanan yang telah mencapai ratusan juta rupiah.

“Kami ingin membawa kekhasan sambal pecel Pacitan ke seluruh Indonesia,” ujar Sri Kustamaji. Kekhasan itu salah satunya terletak pada penggunaan jeruk purut sebagai bahan utama, menggantikan kencur yang umum dipakai di daerah lain. Selain memberi aroma yang lebih segar, jeruk purut juga memberikan warna yang lebih cerah dan menarik.

Baca Juga: Kekayaan Nadiem Makarim Turun Drastis, KPK Soroti Proyek Google Cloud di Kemendikbud

Tak hanya dari sisi bahan, proses produksi pun menjadi perhatian utama. Pelita Lumpang Mas memang memadukan teknologi dan sentuhan tradisional.

Salah satu contohnya adalah proses pengolahan kacang tanah yang tidak digoreng, melainkan dioven. Hasilnya, sambal pecel menjadi lebih sehat, rendah minyak, dan dapat bertahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet.

"Beberapa proses tetap kami lakukan secara manual untuk menjaga kualitas rasa. Misalnya, proses pencampuran bumbu yang masih menggunakan lumpang, sesuai dengan filosofi nama merek kami," jelas Sri.

Baca Juga: Gubernur Pramono Klaim Jakarta Lebih Baik dari New York Soal Macet: Dulu Langganan 10 Besar, Sekarang Nomor 90

Transformasi usaha ini tak lepas dari peran BRI melalui program pemberdayaan UMKM. Sejak tahun 2020, Sri aktif mengikuti pelatihan yang diinisiasi oleh BRI, termasuk grup pelatihan dan expo yang mempertemukan pelaku UMKM dengan buyer mancanegara.

Puncaknya terjadi pada event BRI UMKM EXPO(RT) tahun 2025, di mana Pelita Lumpang Mas berhasil meraih juara kedua dan mencatat lonjakan permintaan yang signifikan.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X