INSIBERNEWS - Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali mengguncang publik dengan memulai babak baru dalam penyidikan dugaan korupsi proyek pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Hari ini, Senin (23/6), mantan Menteri Nadiem Makarim dijadwalkan menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk mengklarifikasi berbagai kejanggalan yang mencuat dalam proyek teknologi pendidikan yang menelan anggaran triliunan rupiah ini.
Baca Juga: Alami Luka Parah, Suami Inul Daratista Masuk IGD hingga Operasi Gegara Masuk Kolam
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, mengungkapkan bahwa Nadiem diharapkan hadir di kantor Kejagung pukul 09.00 WIB.
“Kami sudah layangkan panggilan sesuai prosedur. Harapannya, beliau bisa memberikan keterangan yang membantu penyidik mengurai kasus ini,” ujar Harli kepada awak media kemarin.
Pemeriksaan ini dinilai penting untuk menelusuri alur pengambilan keputusan selama proyek berjalan di era kepemimpinan Nadiem.
Baca Juga: Iran Menggertak Balas Serang Pangkalan AS, Timur Tengah di Ujung Tanduk
Kasus ini berawal dari ambisi besar Kemendikbudristek untuk mendigitalisasi pendidikan melalui program bantuan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Namun, proyek yang seharusnya menjadi lompatan kemajuan justru menuai kritik pedas. Pengadaan Chromebook, perangkat berbasis sistem operasi Google yang dipilih untuk program ini, dianggap bermasalah sejak awal.
Uji coba pada 2019 dengan 1.000 unit perangkat sudah menunjukkan kendala serius, terutama ketergantungan pada koneksi internet yang stabil—sesuatu yang masih jadi barang langka di banyak wilayah, khususnya daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Baca Juga: Iran Klaim Sudah Antisipasi Serangan AS, Trump Tetap Sebut Operasi Bersejarah
Yang bikin publik semakin geram adalah dugaan adanya permainan kotor di balik layar. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa tim teknis yang dibentuk untuk mengkaji spesifikasi perangkat diduga dimanipulasi agar memihak Chromebook, meski perangkat ini kurang cocok dengan realitas di lapangan.
Sekolah-sekolah di pelosok, misalnya, sering kali tidak punya infrastruktur listrik memadai, apalagi jaringan internet.
“Ini seperti memberikan mobil balap ke daerah yang jalannya masih tanah,” kata seorang guru dari Nusa Tenggara Timur yang enggan disebut namanya.
Artikel Terkait
Catatkan Prestasi Bersama BRI, UMKM Rempah Lokal Labuna Makin Mendunia
Meski Satgas Dibubarkan, Kapolri Tegaskan Pemberantasan Pungli dan Korupsi Terus Berjalan
Terjadi Lagi! Pesawat Saudia Airlines Dapat Ancaman Bom, Mendarat Darurat di Bandara Kualanamu
Serangan Kejut AS ke Iran: Fordow Dihantam, Trump Ancam Serangan Lanjutan
BRI Bagikan Hadiah Mobil Listrik hingga Jam Tangan Pintar bagi Merchant di Program Loyalty Poin Cashier 2025
Prabowo Teken Aturan Baru: Saksi Pelaku Bisa Dapat Remisi dan Bebas Bersyarat
Iran Klaim Sudah Antisipasi Serangan AS, Trump Tetap Sebut Operasi Bersejarah
Menjadi yang Pertama di Indonesia, BRI Terbitkan Social Bond Senilai Rp5 Triliun untuk Dukung Pembiayaan Inklusif dan Berkelanjutan
Fokus pada Tata Kelola yang Solid, Telkom Perkuat Posisi sebagai Penggerak Ekosistem Digital yang Berdaya Saing Global
Iran Menggertak Balas Serang Pangkalan AS, Timur Tengah di Ujung Tanduk