INSIBERNEWS - Rencana penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia disambut positif oleh sejumlah kalangan, terutama karena mencakup sektor-sektor strategis seperti industri gula, pupuk, dan perdagangan daging.
Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar upaya mempererat hubungan bilateral, tapi juga bagian dari strategi Indonesia untuk memperluas jejaring global di tengah dinamika ekonomi dunia yang tak menentu.
Baca Juga: Mirip Bagi Sembako, DPR Tanggapi Menu Viral MBG yang Masih Bahan Mentah di Tangerang Selatan
Ekonom senior dari Indef, Tauhid Ahmad, menilai kerja sama ini punya nilai strategis jangka panjang. Terutama karena berlangsung di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik seperti perang Iran-Israel serta tekanan ekonomi dari negara besar seperti Amerika Serikat.
Menurutnya, jika investasi yang dijanjikan Rusia benar-benar terealisasi, maka dampaknya bisa menjadi penopang ekonomi nasional.
Baca Juga: Telat Kick-Off, Manchester City Kembali Didenda Miliaran oleh Premier League
“Ini langkah bagus, apalagi kalau Indonesia bisa menjadikannya bagian dari penguatan kerja sama dalam BRICS. Hubungan bilateral akan makin erat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di blok ekonomi tersebut,” ujar Tauhid saat dihubungi, Jumat (20/6).
Salah satu poin yang cukup mendapat perhatian adalah rencana impor daging dari Rusia. Tauhid mengingatkan bahwa Indonesia punya standar mutu dan keamanan pangan yang harus dijaga.
Artinya, daging dari Rusia harus memenuhi ketentuan tersebut dan tidak kalah bersaing secara harga dengan produk dari Australia atau Selandia Baru yang selama ini mendominasi pasar impor Indonesia.
Baca Juga: Karena Hal Ini! Al Ghazali dan Alyssa Daguise Pilih Afrika untuk Bulan Madu usai Resmi jadi Pasutri
“Kita tentu berharap harga daging dari Rusia bisa lebih kompetitif, tanpa mengabaikan kualitas. Tapi tetap harus dikaji betul agar tidak malah mematikan peternak lokal,” ujarnya.
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah membuka keran impor tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor dalam negeri. Terutama sektor peternakan dan industri makanan olahan yang bergantung pada rantai pasok lokal.
Kolaborasi internasional memang penting, tetapi jangan sampai justru merugikan pelaku usaha kecil dan menengah di dalam negeri.
Baca Juga: Di Hadapan Putin, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia pada Perdamaian dan Kerja Sama Global
Artikel Terkait
Simbol Persahabatan Indonesia dan Rusia, Prabowo–Putin Saling Tukar Cinderamata: Pedang Perwira hingga Keris Pattimura
Ngaku Salah Kostum di Acara Ngunduh Mantu, Berikut Pesan Cinta Laura untuk Al Ghazali - Alyssa Daguise
BRI Perkuat Jaring Pengaman Sosial dengan Sukseskan Penyaluran Bantuan Subsidi Upah
Prabowo dan Putin Sepakat Perkuat Hubungan Lewat Empat Kesepakatan Strategis, Apa Saja?
Di Hadapan Putin, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia pada Perdamaian dan Kerja Sama Global
Laptop Rp9,9 Triliun Bermasalah, Eks Mendikbud Nadiem Makarim Dipanggil Jaksa
Karena Hal Ini! Al Ghazali dan Alyssa Daguise Pilih Afrika untuk Bulan Madu usai Resmi jadi Pasutri
Mbah Tupon Jadi Korban Mafia Tanah, Enam Tersangka Dibekuk Polisi DIY
Telat Kick-Off, Manchester City Kembali Didenda Miliaran oleh Premier League
Mirip Bagi Sembako, DPR Tanggapi Menu Viral MBG yang Masih Bahan Mentah di Tangerang Selatan