INSIBERNEWS - Sejumlah jemaah haji asal Indonesia mengalami nasib kurang mengenakkan saat menjalani puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah pada Kamis, 6 Juni 2025 lalu.
Tak sedikit dari mereka yang tak kebagian tempat di tenda yang seharusnya disiapkan untuk beristirahat. Padahal, wukuf adalah momen penting dan inti dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Baca Juga: Selesaikan Rangkaian Ibadah Haji, Ivan Gunawan Bagikan Penampilan Terbarunya
Jemaah mulai diberangkatkan dari hotel di Makkah ke Arafah sejak 4 Juni. Namun, kondisi di lapangan ternyata jauh dari kata ideal. Banyak jemaah akhirnya terpaksa beristirahat di luar tenda atau menumpang di tenda lain karena tak kebagian ruang.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muchlis M. Hanafi, tak menutupi fakta ini dan menjelaskan secara terbuka soal berbagai kendala yang menjadi penyebab kekacauan penempatan tenda di Arafah.
"Sebenarnya masih ada tenda yang belum penuh, tapi karena sistemnya tidak bisa fleksibel, banyak ruang kosong yang tidak bisa dimanfaatkan," kata Muchlis saat dikutip dari laman resmi Kemenag, Minggu, 8 Juni 2025.
Menurutnya, ada tenda dengan kapasitas 350 orang yang hanya terisi 325 jemaah, tapi jemaah lain dari kelompok berbeda tidak diperbolehkan masuk. Bahkan, meski berasal dari markaz yang sama, perbedaan pengaturan hotel dan syarikah membuat akses jadi terbatas.
Baca Juga: Fantasi Menyimpang dan Obat Bius, Dokter PAP Siap Diseret ke Meja Hijau
Salah satu biang keroknya adalah skema keberangkatan jemaah dari hotel menuju Arafah yang berdasarkan hotel, bukan berdasarkan markaz atau syarikah seperti biasanya.
Ini membuat beberapa tenda langsung terisi penuh karena gelombang jemaah dari hotel tertentu datang bersamaan, sementara tenda untuk jemaah lain masih kosong menunggu giliran.
Baca Juga: BRI Dorong Terwujudnya Desa Wisata sebagai Destinasi Unggulan Daerah Melalui Program Desa BRILiaN
Selain itu, perpindahan jemaah secara sepihak juga memperkeruh situasi. Banyak yang berpindah tenda untuk bisa bersama keluarga, teman, atau kelompok bimbingan tertentu. Perpindahan tanpa koordinasi ini membuat distribusi jemaah jadi tidak merata dan menyulitkan pengawasan oleh petugas.
"Akibatnya, petugas kewalahan. Beban kerja jadi berat karena harus melayani lebih dari 203 ribu jemaah yang tersebar di 60 markaz," ujar Muchlis.
Artikel Terkait
Berbagi di Momen Idul Adha 1446 H, Bapekis dan Karyawan BRI Salurkan 961 Hewan Kurban untuk Masyarakat
Dipastikan Menteri LH Pertambangan GAG Nikel Jalankan Operasional Berkelanjutan
Ternyata Bukan PT Gag Nikel, Berikut Ini Dua Perusahaan yang Rusak Raja Ampat!
Melalui AgenBRILink Pemuda Ini Kembangkan Usaha hingga Ciptakan Lapangan Kerja di Kolaka
BRI Dorong Terwujudnya Desa Wisata sebagai Destinasi Unggulan Daerah Melalui Program Desa BRILiaN
Eks Ketua DPRD Jatim Hilang Usai Jadi Tersangka Suap Dana Hibah, KPK Gerak Cepat!
Viral Video Anjing Dikuliti Hidup-Hidup, Diduga Bukan Kejadian Baru dan Bukan Terjadi di Sragen
Fantasi Menyimpang dan Obat Bius, Dokter PAP Siap Diseret ke Meja Hijau
Ketua DPD Hanura Jateng Tersandung Kasus Bisnis Karaoke Striptis, DPP Siapkan Tim Hukum dan Minta Hormati Proses Hukum
Selesaikan Rangkaian Ibadah Haji, Ivan Gunawan Bagikan Penampilan Terbarunya