INSIBERNEWS - Cahaya harapan mulai menyinari langit Jalur Gaza setelah kabar muncul bahwa Israel dan Hamas sepakat menghentikan pertempuran untuk sementara waktu.
Gencatan senjata ini dikabarkan akan berlangsung selama 60 hari, dan menjadi bagian dari inisiatif diplomatik Amerika Serikat yang belakangan aktif menengahi ketegangan panjang di kawasan tersebut.
Baca Juga: 1,8 Juta Warga Tak Lagi Terima Bansos, Mensos: Ekonomi Mereka Sudah Lebih Mapan
Sinyal positif datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mulai membuka diri terhadap proposal damai yang disampaikan oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff. Dalam pertemuan dengan keluarga para sandera, Netanyahu menyampaikan bahwa proposal tersebut bisa menjadi jalan keluar, meskipun belum final.
Di sisi lain, Hamas juga menunjukkan respons awal yang tidak sepenuhnya menutup pintu. Mereka dikabarkan bersedia membebaskan sejumlah sandera dengan imbalan dihentikannya serangan militer Israel untuk dua bulan ke depan.
Baca Juga: Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
Menurut laporan Haaretz, isi perjanjian sementara ini meliputi pembebasan 10 sandera Israel yang masih hidup dan penyerahan 18 jenazah yang masih berada di tangan Hamas. Sebagai gantinya, Israel akan menghentikan operasi militer aktif selama periode gencatan.
Meski begitu, masih ada beberapa poin dalam proposal yang ditolak Hamas, salah satunya adalah ketidakpastian mengenai kelanjutan gencatan senjata setelah 60 hari berakhir.
Situasi di lapangan sendiri belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Justru dalam beberapa hari terakhir, militer Israel meningkatkan intensitas serangan, baik lewat serangan udara maupun darat yang kini diberi nama Operation Gideon’s Chariots.
Netanyahu menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk benar-benar melumpuhkan infrastruktur Hamas dan tidak akan dihentikan sebelum tujuan itu tercapai.
Baca Juga: Nikita Mirzani Gugat Reza Gladys: Konflik Bisnis Skincare dan Isyarat Ajakan Damai di Tengah Sidang
Upaya perundingan damai sebelumnya memang kerap menemui jalan buntu. Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat telah beberapa kali duduk satu meja dengan kedua belah pihak, namun hasilnya belum konsisten.
Banyak faktor menjadi penghalang, mulai dari tuntutan gencatan total, pertukaran sandera, hingga soal kontrol wilayah yang masih diperdebatkan.
Artikel Terkait
Timnas Basket Putra U-16 Indonesia Sikat Vietnam, Pastikan Tiket FIBA Asia Cup 2025
Kemensos Seleksi Guru yang Berempati Tinggi untuk Sekolah Rakyat Miskin
Dituding Praktik Perbudakan, Raksasa EV China BYD Digugat Jaksa Brasil Rp740 Miliar
Presiden Macron Kunjungi Borobudur: Persahabatan Indonesia–Prancis Lewat Diplomasi Budaya, Penghargaan, dan Harmoni di Puncak Candi
Kepergian Si Uni: Harimau Tertua di Taman Rimba Jambi dan Kisah Sunyi Konservasi
Nikita Mirzani Gugat Reza Gladys: Konflik Bisnis Skincare dan Isyarat Ajakan Damai di Tengah Sidang
Canggihnya Helikopter Kepresidenan AW189 yang Digunakan Prabowo dan Macron ke Borobudur
Pelaku Pencabulan Anak Tiri Disabilitas di Serang Ditangkap, Korban Berani Bersuara Setelah Lama Tertutup
Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
1,8 Juta Warga Tak Lagi Terima Bansos, Mensos: Ekonomi Mereka Sudah Lebih Mapan