Tren Mengkhawatirkan: Anak SD di Korea Selatan Alami Depresi Sejak Dini

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Kamis, 29 Mei 2025 | 18:09 WIB
Foto Ilustrasi anak SD di Seoul, Yongsan International School of Seoul (YISS) (서울용산국제학교)
Foto Ilustrasi anak SD di Seoul, Yongsan International School of Seoul (YISS) (서울용산국제학교)

INSIBERNEWS – Belakangan ini, kabar tentang makin banyak anak SD di Seoul yang mengalami depresi dan kecemasan jadi perhatian banyak orang.

Studi terbaru dari Kantor Pendidikan Seoul mengungkap fakta mengejutkan bahwa selama tiga tahun terakhir, gejala masalah kesehatan mental pada siswa SD makin meningkat.

Mulai dari depresi, kecemasan, sampai pesimisme yang makin terasa, jadi peringatan serius untuk orang tua dan pendidik.

 Baca Juga: Nasib Mahasiswa Indonesia di Harvard Terancam, Pemerintah Harap Tenang di Tengah Ancaman Kebijakan Trump

Salah satu penyebab utama yang disebutkan adalah pengaruh media sosial. Anak-anak yang masih kecil sudah aktif di Instagram, YouTube, dan berbagai platform lain, tanpa sadar sering membandingkan diri dengan kehidupan glamor yang mereka lihat di layar.

Kondisi ini bikin mereka merasa kurang, minder, dan akhirnya berujung pada perasaan tidak bahagia yang berkepanjangan.

Perasaan “kurang” ini ternyata cukup berbahaya untuk kesehatan mental yang sedang berkembang.

 Baca Juga: Mahasiswa RI Gagal Urus Visa Kuliah ke AS? Ini Solusi dari Kemendiktisaintek untuk Studi Tetap Jalan Terus!

Selain itu, pola asuh yang terlalu protektif juga turut berperan. Di Korea Selatan, gaya pengasuhan yang terlalu “sensitif” dan memanjakan emosi anak justru bikin daya tahan emosional mereka melemah.

Anak yang dibungkus dengan perhatian berlebihan ketika menghadapi masalah kecil cenderung jadi lebih mudah stres dan cemas ketika ada tantangan yang lebih besar.

Jadi, bukannya makin kuat, anak-anak ini justru makin rentan terhadap depresi.

 Baca Juga: Kampus Ternama Jepang Siap Tampung Mahasiswa Asing Korban Kebijakan Trump, Ini Kata Pemerintah Jepang

Hal ini mengingatkan kita, terutama para orang tua, bahwa membangun ketahanan mental pada anak itu penting.

Memberikan ruang bagi anak untuk belajar menghadapi masalah dan tantangan, serta membatasi pengaruh negatif dari media sosial, bisa jadi langkah kecil tapi berarti besar.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X