INSIBERNEWS - Operasi sapu bersih premanisme bertajuk Berantas Jaya 2025 yang digelar Polda Metro Jaya berakhir dengan hasil yang cukup mengejutkan. Selama dua pekan pelaksanaan, dari 9 hingga 23 Mei 2025, sebanyak 3.599 orang berhasil diamankan dari berbagai lokasi rawan di wilayah hukum DKI Jakarta dan sekitarnya.
Operasi ini menyasar pelaku premanisme jalanan, kelompok berkedok ormas, debt collector ilegal, hingga geng motor yang meresahkan masyarakat.
Baca Juga: Patrick Kluivert Resmi Panggil Beckham Putra Main di Timnas Indonesia, Gantikan Septian Bagaskara
Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya, Kombes Pol I Ketut Gede Wijatmika menjelaskan bahwa dari ribuan yang ditangkap, 348 orang ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti melakukan tindakan kriminal.
Sementara sisanya, sebanyak 3.251 orang, dinilai belum masuk kategori pidana namun tetap dianggap berpotensi mengganggu ketertiban umum, sehingga hanya diberikan pembinaan.
Baca Juga: KPAI Soroti Program Barak Militer untuk Siswa, Minta Gubernur Jabar Tunda Sementara
“Dari total tersebut, 59 orang kami bina langsung di tingkat Polda. Selebihnya, sebanyak 3.192 orang menjalani pembinaan di Polres masing-masing,” kata Wijatmika dalam keterangannya kepada awak media.
Ia menambahkan, sebagian besar dari mereka diamankan dari titik-titik keramaian seperti pasar, terminal, kawasan pertokoan, hingga simpang jalan yang kerap dijadikan lahan “ngebek” oleh para preman dengan dalih jasa pengamanan. Menurutnya, aksi-aksi tersebut tak hanya membuat masyarakat resah, tapi juga menciptakan citra negatif terhadap keamanan di Ibu Kota.
Baca Juga: Geser Jepang, India Resmi Duduki Peringkat Keempat Ekonomi Terbesar Dunia
“Kami ingin menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk premanisme. Ini bagian dari upaya kami menciptakan Jakarta yang lebih aman dan tertib,” tegasnya.
Polisi juga mengajak masyarakat untuk lebih berani melapor jika menemukan aksi pemerasan, pemalakan, atau intimidasi di sekitar lingkungan mereka.
Ke depan, Polda Metro Jaya berencana menjadikan kegiatan seperti ini sebagai program berkala, sekaligus memperkuat kerja sama dengan tokoh masyarakat dan pemerintah daerah demi memberantas premanisme dari akarnya.
Artikel Terkait
Kelas Menengah Masih Terpinggirkan, Diskon Listrik Dinilai Perlu Diperluas hingga 2.200 VA
Tak Tahan Lihat Penderitaan Gaza, Malta Siap Akui Palestina Bulan Depan
Jual Gading Gajah Ilegal, Bareskrim Ringkus Pelaku yang Sudah Jualan Sejak 2020
Wacana Jam Malam untuk Pelajar di Jabar Tuai Pro dan Kontra, Menjaga atau Batasi Ruang Gerak?
Berkedok Parkir, Ormas PP Diduga Kuras Miliaran dari RSUD Tangsel Sejak 2017
Heboh! Restoran Ayam Goreng Widuran di Solo Ternyata Nonhalal, Muhammadiyah Desak Agar Diproses Hukum
Polisi Tetapkan Penjaga Palang KA Magetan Sebagai Tersangka atas Tragedi Kecelakaan yang Tewaskan 4 Orang
Markas Kodim Poso Kebakaran, TNI Bentuk Tim Gabungan Telusuri Penyebab
Geser Jepang, India Resmi Duduki Peringkat Keempat Ekonomi Terbesar Dunia
KPAI Soroti Program Barak Militer untuk Siswa, Minta Gubernur Jabar Tunda Sementara