INSIBERNEWS - Pernyataan kontroversial datang dari anggota Kongres Amerika Serikat, Randy Fine, yang menyerukan penggunaan bom nuklir terhadap Gaza dalam sebuah wawancara bersama Fox News.
Anggota Partai Republik ini membandingkan konflik Israel-Palestina dengan Perang Dunia II dan menyatakan bahwa solusi terhadap Hamas adalah serangan total tanpa kompromi, bahkan menyebut perlunya langkah ekstrem seperti yang pernah dilakukan terhadap Jepang di Hiroshima dan Nagasaki.
Baca Juga: Rumah Mewah dan Aset Triliunan Disita KPK, Bongkar Skandal Akuisisi Jembatan Nusantara
Menurut Fine, proses negosiasi gencatan senjata yang selama ini berjalan dianggap tidak efektif. Ia menolak ide kompromi atau kesepakatan damai dengan menyatakan,
"Satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik ini adalah dengan penyerahan total dari mereka yang mendukung terorisme Muslim."
Ia kemudian menyamakan Hamas dengan Nazi dan Kekaisaran Jepang pada masa perang dunia, yang menurutnya harus dihadapi dengan pendekatan militer tanpa syarat.
Baca Juga: Usulan Hapus Batas Usia Kerja Dinilai Solutif, Celios: PHK Bukan Akhir Jalan Karier
Ia menambahkan, "Dalam Perang Dunia II, kita tidak berdamai dengan Nazi atau Jepang. Kita menggunakan bom nuklir dua kali untuk memaksa mereka menyerah. Itu juga yang seharusnya dilakukan sekarang," ucapnya.
Pernyataan ini menuai reaksi keras dari sejumlah kalangan, termasuk aktivis HAM, komunitas internasional, dan sebagian warga AS sendiri yang menilai ucapannya tidak manusiawi dan memicu kebencian.
Baca Juga: Efek Kekalahan di Pemilu, Presiden Filipina Minta Para Menteri Mundur Sukarela
Fine juga menyebut bahwa “budaya” yang ada di Gaza adalah bagian dari masalah yang harus dikalahkan, pernyataan yang dinilai rasis dan menggeneralisasi warga Palestina secara keseluruhan. Ia menyatakan tidak ada tempat bagi kompromi terhadap "budaya yang merayakan kekerasan," tanpa membedakan antara kelompok bersenjata dan warga sipil.
Baca Juga: Selfie di Mahkamah Agung: Foto Harun Masiku Bareng Hasto dan Djan Faridz Diungkap di Sidang
Komentar anggota kongres ini mencuat di tengah mandeknya negosiasi damai yang tengah diupayakan oleh sejumlah pihak internasional.
Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat diketahui masih berusaha menengahi kesepakatan gencatan senjata jangka panjang, di tengah krisis kemanusiaan yang makin parah di Jalur Gaza sejak konflik kembali memanas pada Oktober 2023.
Artikel Terkait
Bareskrim Pastikan Ijazah Jokowi Asli, Kader PSI Dian Sandi Utama Minta Maaf Langsung ke Solo
Temuan Baru Komnas HAM, Ledakan di Garut Diwarnai Perdebatan Soal Penanganan Detonator
Respon Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Soal Shell yang Resmi Lepas Seluruh SPBU di Indonesia
Palsukan Air Le Minerale, Warga Bekasi Edarkan Galon Berisi Air Sumur Tercemar
Trump Larang Harvard Terima Mahasiswa Asing, Tuduh Kampus Jadi Sarang Radikalisme dan Pengaruh China
Selfie di Mahkamah Agung: Foto Harun Masiku Bareng Hasto dan Djan Faridz Diungkap di Sidang
Bulog Jakarta-Banten Tembus Target Serapan Gabah, Petani Diuntungkan Stok Nasional Aman
Efek Kekalahan di Pemilu, Presiden Filipina Minta Para Menteri Mundur Sukarela
Usulan Hapus Batas Usia Kerja Dinilai Solutif, Celios: PHK Bukan Akhir Jalan Karier
Rumah Mewah dan Aset Triliunan Disita KPK, Bongkar Skandal Akuisisi Jembatan Nusantara