INSIBERNEWS - Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyoroti ketidakpastian yang menyelimuti negosiasi tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Menurut Ariston, ketegangan ini tetap menjadi kekhawatiran utama bagi pelaku pasar keuangan, yang terus mencermati perkembangan pembicaraan tersebut.
Baca Juga: Paula Verhoeven Ajukan Banding Atas Putusan Cerai dengan Baim Wong, Begini Penjelasannya
"Berita yang beredar menyatakan bahwa pembicaraan tarif antara AS dan China, yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Trump, belum dimulai. Ketidakpastian ini tentu akan memberi tekanan pada aset berisiko, termasuk nilai tukar Rupiah," ungkap Ariston dalam wawancaranya, dilansir dari Media Nasional, Selasa (29/4/2025).
Baca Juga: Gempur Narkoba! Polres Pelabuhan Tanjung Priok Ringkus 12 Pengedar dalam Sebulan
Meskipun demikian, ia mencatat bahwa ada sedikit angin segar bagi pasar keuangan Indonesia, yaitu melemahnya indeks dolar AS. Ariston menjelaskan bahwa indeks dolar AS mengalami penurunan dari angka 99,50 menjadi 99,18, yang bisa sedikit menahan pelemahan Rupiah terhadap dolar AS.
"Kondisi ini memberikan sedikit ruang untuk pergerakan Rupiah, meskipun potensi tekanan masih ada," ujar Ariston.
Baca Juga: Balita di Kosambi Tewas Terbakar, Autopsi Ungkap Ada Tanda Kekerasan di Leher dan Anus
Ariston juga memprediksi bahwa pergerakan Rupiah masih dapat berlanjut melemah hingga mencapai kisaran Rp16.900 terhadap dolar AS. Meskipun demikian, ia juga menilai ada potensi titik support di angka Rp16.820 yang bisa menahan laju pelemahan lebih lanjut.
"Ini menjadi level yang perlu diperhatikan, karena bisa menjadi titik penahan bagi pelemahan Rupiah," jelasnya.
Baca Juga: Layanan Haji 2025 Siap 100 Persen, Kemenag Pastikan Jamaah Dapat Pelayanan Terbaik di Tanah Suci
Di sisi lain, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh isu perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini juga memengaruhi sentimen global. Pelaku pasar berharap ada kejelasan terkait dengan pembicaraan tarif antara AS dan China, yang jika terwujud, dapat meredakan ketegangan dan mendorong pemulihan di pasar keuangan global.
Namun, hingga saat ini, ketegangan tersebut masih menciptakan ketidakpastian yang meluas, terutama dalam pasar mata uang.
Baca Juga: Jadwal Padat, Lisa BLACKPINK Tolak Tampil di Grand Final Miss Universe 2025
Artikel Terkait
Mengintip Kisah Sukses UMKM Bali Nature yang Go Internasional Usai Terima Pemberdayaan BRI
Solo Kejar Target 45 Dapur Gizi, Program Makan Gratis Dipercepat
Israel Tolak Proposal Gencatan Senjata 5 Tahun dari Hamas, Perang Gaza Masih Berlanjut
Layanan Haji 2025 Siap 100 Persen, Kemenag Pastikan Jamaah Dapat Pelayanan Terbaik di Tanah Suci
Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas di Bursa, Pasar Modal RI Bakal Makin Bergairah
China Janji Berikan Dukungan Lebih Besar untuk Eksportir Terdampak Tarif AS
Waspada Visa Non-Haji, Kemenag Imbau Jamaah Hanya Gunakan Visa Resmi untuk Beribadah
Ketidakpastian Perdagangan dan Lonjakan Utang Ancam Pertumbuhan Ekonomi Global
Balita di Kosambi Tewas Terbakar, Autopsi Ungkap Ada Tanda Kekerasan di Leher dan Anus
Gempur Narkoba! Polres Pelabuhan Tanjung Priok Ringkus 12 Pengedar dalam Sebulan