Ketidakpastian Perdagangan dan Lonjakan Utang Ancam Pertumbuhan Ekonomi Global

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 29 April 2025 | 12:09 WIB
Bank Dunia: Harga Komoditas Global Diprediksi Anjlok Pada 2025 (Photo : ist)
Bank Dunia: Harga Komoditas Global Diprediksi Anjlok Pada 2025 (Photo : ist)

INSIBERNEWS - Bank Dunia kembali mengingatkan dunia terhadap ancaman yang semakin nyata bagi perekonomian global, terutama negara-negara berkembang.

Ketidakpastian dalam sektor perdagangan yang terus meningkat kini menjadi momok serius, memperparah tekanan akibat beban utang dan perlambatan pertumbuhan yang telah lebih dulu membayangi.

Baca Juga: Waspada Visa Non-Haji, Kemenag Imbau Jamaah Hanya Gunakan Visa Resmi untuk Beribadah

Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, menyatakan bahwa situasi ini mendorong para analis ekonomi internasional untuk secara drastis menyesuaikan proyeksi pertumbuhan global ke arah yang lebih pesimistis.

Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia secara resmi menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi, baik untuk negara maju maupun negara berkembang. Langkah ini diambil menyusul rentetan kebijakan proteksionis yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump, termasuk pemberlakuan tarif impor secara besar-besaran.

Baca Juga: China Janji Berikan Dukungan Lebih Besar untuk Eksportir Terdampak Tarif AS

Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran luas akan terjadinya perang dagang berkepanjangan yang berdampak negatif terhadap arus investasi dan perdagangan global.

Kekhawatiran ini kian mengemuka dalam pertemuan musim semi antara Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang digelar di Washington pekan ini. Para delegasi dari berbagai negara menyoroti efek domino dari kebijakan tarif AS dan langkah balasan yang diambil oleh negara-negara besar lain seperti China, Uni Eropa, dan Kanada.

Baca Juga: Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas di Bursa, Pasar Modal RI Bakal Makin Bergairah

Atmosfer pertemuan dipenuhi diskusi serius tentang potensi krisis yang bisa muncul jika ketegangan dagang terus dibiarkan tanpa solusi konkret.

Indermit Gill menekankan bahwa negara-negara berkembang berada dalam posisi paling rentan. Selain harus bergulat dengan tingkat utang yang menggunung, mereka juga kehilangan momentum pertumbuhan akibat menurunnya permintaan global dan terganggunya rantai pasok internasional.

Baca Juga: Jadwal Padat, Lisa BLACKPINK Tolak Tampil di Grand Final Miss Universe 2025

Oleh sebab itu, dibutuhkan langkah kolaboratif dari semua pihak—baik melalui dialog diplomatik maupun kebijakan ekonomi—untuk menahan laju pelemahan ini.

Bank Dunia mendesak pemerintah-pemerintah di seluruh dunia agar tidak hanya mengandalkan stimulus fiskal, namun juga memperkuat kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X