INSIBERNEWS - Bank Dunia kembali mengingatkan dunia terhadap ancaman yang semakin nyata bagi perekonomian global, terutama negara-negara berkembang.
Ketidakpastian dalam sektor perdagangan yang terus meningkat kini menjadi momok serius, memperparah tekanan akibat beban utang dan perlambatan pertumbuhan yang telah lebih dulu membayangi.
Baca Juga: Waspada Visa Non-Haji, Kemenag Imbau Jamaah Hanya Gunakan Visa Resmi untuk Beribadah
Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, menyatakan bahwa situasi ini mendorong para analis ekonomi internasional untuk secara drastis menyesuaikan proyeksi pertumbuhan global ke arah yang lebih pesimistis.
Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia secara resmi menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi, baik untuk negara maju maupun negara berkembang. Langkah ini diambil menyusul rentetan kebijakan proteksionis yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump, termasuk pemberlakuan tarif impor secara besar-besaran.
Baca Juga: China Janji Berikan Dukungan Lebih Besar untuk Eksportir Terdampak Tarif AS
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran luas akan terjadinya perang dagang berkepanjangan yang berdampak negatif terhadap arus investasi dan perdagangan global.
Kekhawatiran ini kian mengemuka dalam pertemuan musim semi antara Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang digelar di Washington pekan ini. Para delegasi dari berbagai negara menyoroti efek domino dari kebijakan tarif AS dan langkah balasan yang diambil oleh negara-negara besar lain seperti China, Uni Eropa, dan Kanada.
Baca Juga: Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas di Bursa, Pasar Modal RI Bakal Makin Bergairah
Atmosfer pertemuan dipenuhi diskusi serius tentang potensi krisis yang bisa muncul jika ketegangan dagang terus dibiarkan tanpa solusi konkret.
Indermit Gill menekankan bahwa negara-negara berkembang berada dalam posisi paling rentan. Selain harus bergulat dengan tingkat utang yang menggunung, mereka juga kehilangan momentum pertumbuhan akibat menurunnya permintaan global dan terganggunya rantai pasok internasional.
Baca Juga: Jadwal Padat, Lisa BLACKPINK Tolak Tampil di Grand Final Miss Universe 2025
Oleh sebab itu, dibutuhkan langkah kolaboratif dari semua pihak—baik melalui dialog diplomatik maupun kebijakan ekonomi—untuk menahan laju pelemahan ini.
Bank Dunia mendesak pemerintah-pemerintah di seluruh dunia agar tidak hanya mengandalkan stimulus fiskal, namun juga memperkuat kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Artikel Terkait
Kim Jong-un Tegaskan Tentara Korea Utara di Rusia Adalah Pahlawan Sejati
Putin Umumkan Gencatan Senjata Sementara di Ukraina, Ajak Negosiasi Damai
Prabowo Tekankan Swasembada Pangan, Ajak Warga Tanam Cabai di Rumah
Mengintip Kisah Sukses UMKM Bali Nature yang Go Internasional Usai Terima Pemberdayaan BRI
Solo Kejar Target 45 Dapur Gizi, Program Makan Gratis Dipercepat
Israel Tolak Proposal Gencatan Senjata 5 Tahun dari Hamas, Perang Gaza Masih Berlanjut
Layanan Haji 2025 Siap 100 Persen, Kemenag Pastikan Jamaah Dapat Pelayanan Terbaik di Tanah Suci
Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas di Bursa, Pasar Modal RI Bakal Makin Bergairah
China Janji Berikan Dukungan Lebih Besar untuk Eksportir Terdampak Tarif AS
Waspada Visa Non-Haji, Kemenag Imbau Jamaah Hanya Gunakan Visa Resmi untuk Beribadah