INSIBERNEWS - Ketegangan di Gaza kembali menjadi sorotan setelah Hamas menyetujui proposal gencatan senjata terbaru yang dirancang oleh Mesir dan Qatar.
Proposal ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk menghentikan konflik yang telah merenggut ribuan nyawa.
"Dua hari yang lalu, kami menerima proposal dari Mesir dan Qatar. Kami melihat dan menerimanya. Kita harap, penjajah Israel tidak menghancurkannya," ujar pejabat Hamas, Kahlil al-Haya, seperti dikutip oleh AFP pada Sabtu (29/3).
Meskipun Hamas telah menerima usulan ini, masih ada keraguan besar mengenai bagaimana Israel akan merespons.
Sejauh ini, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi apakah mereka akan menyetujui atau menolak proposal tersebut.
Baca Juga: Israel Perluas Serangan Darat di Gaza Selatan, Rafah Jadi Target Terbaru
Hamas Tetap Enggan Menyerahkan Senjata
Salah satu poin penting dalam perundingan ini adalah persenjataan Hamas. Kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerahkan senjata mereka, meskipun telah menyetujui gencatan senjata.
Bagi Hamas, mempertahankan persenjataan adalah garis merah yang tidak bisa dilanggar. Mereka menganggap senjata sebagai alat utama untuk melindungi rakyat Palestina dari serangan Israel yang terus berlanjut.
Sebaliknya, Israel diperkirakan akan terus menekan Hamas untuk melucuti senjata mereka sebagai bagian dari kesepakatan jangka panjang. Ini bisa menjadi salah satu faktor yang membuat negosiasi semakin sulit.
Baca Juga: Kemlu Bantah Isu Pemindahan 100 Warga Gaza ke Indonesia
Sejarah Gencatan Senjata yang Gagal
Sebelumnya, Israel dan Hamas sempat melakukan gencatan senjata dari 19 Januari hingga 18 Maret 2025. Namun, kesepakatan itu tidak diperpanjang karena kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan terkait tahap kedua dari perundingan.
Menurut Hamas, Israel menghambat negosiasi pembebasan sandera, sementara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa serangan militer kembali dilanjutkan karena Hamas menolak perpanjangan gencatan senjata.
Akibat gagalnya perundingan tersebut, kontak senjata kembali pecah di Gaza. Sejak 18 Maret, lebih dari 830 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas akibat serangan brutal Israel.
Baca Juga: Protes Besar Anti-Hamas di Gaza, Warga Tuntut Pergantian Kekuasaan
Artikel Terkait
Netanyahu Tegaskan Komitmen Israel Ambil Alih Gaza, Sementara Arab Saudi Bahas Alternatif di Pertemuan Puncak
Lalu Lintas Kapal di Terusan Suez Kembali Ramai Usai Gencatan Senjata di Gaza
ICC Didesak Usut Biden dan CS atas Dugaan Keterlibatan dalam Kejahatan Perang di Gaza
Indonesia Akan Salurkan Bantuan Rp3,2 Triliun untuk Rekonstruksi di Gaza
Sekjen PBB Kecam Serangan Israel di Gaza yang Tewaskan 322 Orang Lebih, Desak Gencatan Senjata Segera Mungkin!
Serangan Udara Israel Hantam Rumah Sakit di Gaza, Pemimpin Hamas Tewas
Protes Besar Anti-Hamas di Gaza, Warga Tuntut Pergantian Kekuasaan
Israel Laporkan Komunikasi dengan Indonesia untuk Relokasi Warga Gaza, Pemerintah RI Belum Beri Pernyataan Resmi
Kemlu Bantah Isu Pemindahan 100 Warga Gaza ke Indonesia
Israel Perluas Serangan Darat di Gaza Selatan, Rafah Jadi Target Terbaru