INSIBERNEWS - Banyak pasien kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi saat penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut.
Kondisi ini membuat penanganan lebih sulit dan tingkat kesembuhan menjadi lebih rendah.
Salah satu penyebab utama keterlambatan deteksi ini adalah minimnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan dini serta kurangnya pemahaman terhadap gejala awal kanker payudara.
Baca Juga: Wajah Cekat-Cekit Setelah Pakai Skincare? Ini Penyebab dan Penjelasannya!
Menurut pakar kesehatan, banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa benjolan kecil, perubahan bentuk payudara, atau keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting bisa menjadi tanda awal kanker.
Gejala ini sering dianggap sepele atau disalahartikan sebagai kondisi yang tidak berbahaya.
“Sebagian besar pasien datang ketika gejalanya sudah parah, karena mereka merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebelumnya,” ujar seorang ahli onkologi.
Baca Juga: Penting! Siapkan Ini Bagi Kamu yang Sudah Mendekati Trimester Akhir Masa Kehamilan!
Selain itu, kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi faktor lain. Tidak semua daerah memiliki fasilitas mammografi atau dokter spesialis yang dapat mendeteksi kanker payudara sejak dini.
Padahal, pemeriksaan rutin seperti SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan mammografi sangat penting untuk mendeteksi kanker pada tahap awal ketika peluang kesembuhan masih sangat tinggi.
Baca Juga: Penasaran! Kenapa Kucing Takut dengan Suara Sapu Lidi? Simak Penjelasannya
Faktor budaya dan rasa malu juga sering menjadi penghalang. Banyak perempuan enggan memeriksakan diri karena merasa tabu membicarakan atau memperlihatkan bagian tubuh tertentu.
Hal ini diperparah dengan mitos dan stigma yang masih melekat di masyarakat terkait kanker payudara, sehingga mereka memilih menunda pemeriksaan hingga gejala sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Evaluasi Untuk Pisces di Tahun 2025: Hal-Hal Yang Perlu Diperbaiki, Apa saja?