Dela sudah melakukan saran dari Sari. Semalam, ia menemui Mbah Bejo dan meminta bedak ayu tersebut. Dan, benar saja. Setelah menyelesaikan riasan dari acara wisuda hari ini, Dela mendapat banyak permintaan merias.
Sejak itu, Dela dikenal sebagai MUA berbakat. Dia memiliki nama yang besar sehingga klien-kliennya pun juga memiliki nama besar. Pernah suatu saat ia merasa terhormat untuk mendandani seorang artis papan atas di hari pernikahannya. Yang pasti, Dela sudah terkenal di kalangan MUA.
Atas pencapaiannya itu, Dela akhirnya bisa melunasi hutang keluarganya. Bahkan, sekarang suaminya tak perlu lagi susah payah bekerja karena penghasilan Dela lebih dari cukup untuk membeli susu dan popok.
Dela juga tak perlu khawatir lagi karena Andre sudah tidak pernah marah-marah lagi. Keluarganya kini hidup bahagia. Di titik ini, Dela memutuskan untuk menghentikan pesugihannya. Dia merasa kalau namanya yang besar sudah cukup membantunya melanjutkan hidup.
Terlebih, tabungannya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya hingga sepuluh tahun ke depan. Dela merasa melakukan pesugihan terlihat sebagai cara yang rendah untuk mendapatkan uang.
Tapi, keputusan itu nampaknya salah besar. Hasil riasan Dela menjadi sangat jelek tanpa bedak ayu. Banyak kliennya yang komplain karena merasa dirugikan.
Sudah bayar mahal tapi hasilnya tak lebih dari hasil riasan kampungan.
Akibatnya, insiden klien yang banyak komplain itu menjadi bahasan di dunia maya. Bagaimana tidak, seorang MUA kondang tiba-tiba kehilangan bakat meriasnya.
Mereka mencaci dan memaki Dela habis-habisan. Skandal yang demikian menjadi makanan empuk bagi media-media yang suka meliput gosip artis. Jadilah nama Dela tercemar.
Baca Juga: Tips Agar Tetap Bugar Saat Cuaca Panas
Bahkan, saking jelek namanya, rumah Dela sampai harus dilempari tai oleh orang-orang yang membencinya. Kejadian itu tentu berimbas kepada pekerjaannya. Semakin hari, tidak ada yang mau menyewa jasanya. Dela dan suaminya sudah menganggur sekarang.
Tapi, Dela tidak tahan dengan omongan orang. Sampai saat menganggur pun, caci dan maki tidak berhenti diberikan kepadanya. Hal itu membuatnya frustasi. Bagi Dela, image yang jelek di masyarakat itu adalah bencana besar. Sangat sulit untuk memperbaikinya apalagi mengembalikannya.
Dela tak bisa mengenyahkan pikiran bahwa sosok dirinya akan selamanya dianggap pembohong di mata orang. Pikiran itu sangat mengganggu Dela. Ia sudah putus asa. Ia mengambil kursi dan tali.
Dela memutuskan mengakhiri hidupnya daripada hidup dalam kesengsaraan[**]