Hal ini meninggalkan trauma mendalam bagi anak tersebut. Jessica menyebut sang anak bahkan sering mengulang ucapan yang mencerminkan apa yang ia lihat dan dengar selama bertahun-tahun.
Kondisi ini membuat publik semakin prihatin, mengingat dampak psikologis jangka panjang yang dapat dialami anak akibat kekerasan dalam rumah tangga.
Dugaan Kekerasan terhadap Anak Autisme pada 2016
Salah satu bagian paling mengundang reaksi warganet adalah dugaan kekerasan terhadap anak yang terjadi pada 2016. Saat itu, MH disebut membawa anak mereka yang memiliki kondisi autisme ke pusat perbelanjaan AEON Mall.
Baca Juga: Pembangunan Tahap II IKN Dimulai, Kompleks DPR hingga Mahkamah Ditarget Rampung 2027
Sepulang dari sana, Jessica mengaku mendapati kondisi anaknya mengalami luka serius, termasuk mata yang lebam. Menurut pengakuannya, kekerasan tersebut dipicu karena sang anak mengalami tantrum di tempat umum, sesuatu yang sebenarnya umum terjadi pada anak dengan kebutuhan khusus.
Jessica menegaskan bahwa tantrum adalah respons yang wajar dan bukan alasan untuk melakukan tindakan represif terhadap anak yang tidak berdaya.
Proses Perceraian Dinilai Tidak Adil
Permasalahan hukum memuncak pada 2024, saat proses perceraian diputus secara verstek atau tanpa kehadiran tergugat. Jessica mengaku tidak pernah menerima panggilan ataupun informasi terkait persidangan tersebut.
Akibatnya, putusan pengadilan dinilai merugikan dirinya dan cenderung berpihak kepada MH. Lebih mengejutkan lagi, Jessica mengungkap bahwa akta pernikahan yang selama ini menjadi dasar hukum rumah tangga mereka diduga palsu.
Baca Juga: BNN Ungkap Ratusan Kasus Narkoba Sepanjang 2025, Jaringan Nasional hingga Internasional Terbongkar
Jika benar, maka pernikahan yang telah berlangsung belasan tahun itu dinyatakan tidak sah secara hukum negara, sebuah fakta yang menurutnya sangat merugikan dirinya dan anak-anak.
Ironisnya, meski disebut tidak pernah memberikan nafkah, MH justru menuntut pembagian harta, termasuk penghasilan pribadi Jessica serta tabungan masa depan anak-anak mereka.
Teror Psikologis Berlanjut hingga 2025
Tak berhenti sampai di situ, Jessica juga mengungkap bahwa tekanan dan teror psikologis masih terus ia alami hingga Januari 2025. Ia mengaku menjadi sasaran fitnah serius berupa tuduhan malpraktik di kliniknya, yang sangat membahayakan reputasi profesionalnya sebagai tenaga medis.
Bahkan, asisten pribadinya sempat dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan pencurian yang dinilai tidak berdasar. Merasa tidak lagi mampu menghadapi semuanya seorang diri, Jessica akhirnya memutuskan untuk bersuara dan meminta dukungan publik serta rekan sejawatnya.
Ia menegaskan bahwa meski lelah secara mental dan emosional, ia berusaha tetap bertahan demi anak-anaknya yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus kuat.
Artikel Terkait
Terjerat Kasus Penyalahgunaan Narkoba, Wiz Khalifa Divonis 9 Bulan Penjara
Stok BBM di Banda Aceh Mulai Pulih, Pemerintah Kawal Distribusi Energi Pascabanjir
Viral! Kayu Super Besar Terdampar di Pemukiman Warga Aceh, Disebut Bisa Bikin Kapal Nabi Nuh
TikTok Sepakati Penjualan Bisnis AS, Investor Amerika Jadi Pemegang Saham Mayoritas
Banjir Bandang Sungai Cidadap Terjang Kampung Sawah Tengah Sukabumi, Permukiman Warga Terendam
Viral! Penemuan Diduga Emas di Lumpur Sisa Banjir Bandang Aceh, Warga Terkejut: Bencana Bawa Berkah