INSIBERNEWS - Pemerintah Prancis mengungkapkan kekhawatirannya terkait pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Sejak 27 November 2024, Israel dilaporkan telah melanggar perjanjian tersebut sebanyak 52 kali, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil Lebanon.
Baca Juga: Ternyata Segini Harta Kekayaan Pj Wali Kota Pekanbaru yang Terjaring OTT KPK, Terungkap
Pelanggaran ini telah memicu ketegangan lebih lanjut di wilayah yang sudah terpuruk dalam konflik.
Dalam laporan yang dirilis pada Senin (2/12/2024), Prancis menyoroti bahwa Israel juga kembali melaksanakan penerbangan pesawat nirawak di atas Beirut pada ketinggian rendah, yang semakin memperburuk situasi.
Baca Juga: Profil Pj Wali Kota Pekanbaru, Risnandar Mahiwa, yang Terjaring OTT KPK
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diteken, pelanggaran terus terjadi, menambah ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Seorang pejabat tinggi Prancis menekankan bahwa Lebanon telah berkomitmen untuk mempertahankan gencatan senjata dan berusaha menghindari kebangkitan kekuatan Hizbullah di wilayah selatan negara tersebut.
Baca Juga: KPK Tangkap Pejabat Wali Kota Pekanbaru dalam Operasi Tangkap Tangan di Riau
Namun, menurut pejabat tersebut, Lebanon membutuhkan waktu lebih lama untuk membuktikan komitmennya agar perdamaian dapat terjaga.
Prancis sendiri menyampaikan kekhawatirannya tentang potensi runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang telah tercapai.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman di Lampung Jelang Natal dan Tahun Baru 2025
Meskipun pihak Lebanon berusaha keras untuk mematuhi perjanjian, serangan-serangan yang terus berlangsung dari Israel membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, dunia internasional memantau perkembangan situasi ini dengan cermat, berharap agar upaya diplomatik dapat memperbaiki kondisi di lapangan dan mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat merugikan lebih banyak nyawa.