Dukungan Bipartisan di AS
Romualdez menekankan bahwa bipartisan support di AS sangat krusial dalam menjaga kestabilan hubungan kedua negara.
“Kami mendapat dukungan kuat dari kedua belah pihak, Demokrat dan Republik, di Kongres AS. Setiap teman kami di kubu Republik telah menyatakan dukungan kuat terhadap apa pun yang kami lakukan terkait tantangan yang kami hadapi dengan China,” ujarnya.
Filipina melihat kebijakan luar negeri Donald Trump selama masa jabatannya yang pertama sebagai keuntungan dalam hal keamanan.
Pada 2019, Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS saat itu, secara tegas menyatakan bahwa AS akan membela Filipina jika diserang di Laut Cina Selatan, memperkuat komitmen dalam Perjanjian Pertahanan Bersama (Mutual Defense Treaty, MDT) yang telah ada sejak tahun 1951.
Baca Juga: Batal Sudah! Hakim Tolak Kasus Pemilu Trump 2020, Kemenangan Besar Bagi Presiden Terpilih!
Strategi Filipina: Diplomasi dan Keamanan
Meskipun Filipina sangat mengandalkan dukungan AS dalam hal keamanan dan pertahanan, Romualdez juga menegaskan bahwa Manila tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan dengan China secara damai.
Filipina ingin tetap membuka jalur diplomatik dengan Beijing, asalkan hal itu tidak merugikan kepentingan nasional mereka.
“Kami tidak sedang berperang,” ujar Romualdez, sembari menambahkan bahwa Filipina masih melihat banyak peluang untuk bekerja sama dengan China dalam bidang lain, seperti perdagangan dan pembangunan infrastruktur.