Agus mengungkapkan Promedia kembali mengajukan program magang pada 2026 sebanyak dua kali, tetapi keduanya belum berhasil memperoleh persetujuan.
Baca Juga: Diduga Kena Serangan Jantung, Pria di Jember Meninggal saat Nonton Sound Horeg
Ketika ditanya ke penyelenggara program, alasan penolakan karena kuota habis.
Ia berharap seleksi perusahaan penyelenggara magang tidak hanya mempertimbangkan persyaratan administratif, tetapi juga rekam jejak pembinaan dan penyerapan tenaga kerja. Ini penting.
Karena tolak ukur suksesnya program ini adalah peserta magang terserap, bukan kembali jadi pengangguran.
“Jangan sampai program magang hanya sukses dari jumlah peserta yang ditempatkan, tetapi tidak terukur berapa yang akhirnya bekerja. Tujuan akhirnya kan meningkatkan kompetensi dan membuka kesempatan kerja,” tegasnya.
Kisah Kaka Mauladi menunjukkan bahwa magang dapat menjadi jembatan nyata menuju pekerjaan.
Keberhasilan seperti inilah yang semestinya menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan program MagangHub ke depan.***