Agus mengungkapkan Promedia kembali mengajukan program magang pada 2026 sebanyak dua kali, tetapi keduanya belum berhasil memperoleh persetujuan.
Baca Juga: Diduga Kena Serangan Jantung, Pria di Jember Meninggal saat Nonton Sound Horeg
Ketika ditanya ke penyelenggara program, alasan penolakan karena kuota habis.
Ia berharap seleksi perusahaan penyelenggara magang tidak hanya mempertimbangkan persyaratan administratif, tetapi juga rekam jejak pembinaan dan penyerapan tenaga kerja. Ini penting.
Karena tolak ukur suksesnya program ini adalah peserta magang terserap, bukan kembali jadi pengangguran.
“Jangan sampai program magang hanya sukses dari jumlah peserta yang ditempatkan, tetapi tidak terukur berapa yang akhirnya bekerja. Tujuan akhirnya kan meningkatkan kompetensi dan membuka kesempatan kerja,” tegasnya.
Kisah Kaka Mauladi menunjukkan bahwa magang dapat menjadi jembatan nyata menuju pekerjaan.
Keberhasilan seperti inilah yang semestinya menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan program MagangHub ke depan.***
Artikel Terkait
Diterpa Badai OTT KPK, BNPB Janji Tak Akan Intervensi Hukum dan Jamin Tanggap Bencana Tetap Jalan
Langit Palangka Raya Menguning Ditelan Asap Pekat, Jarak Pandang Lumpuhkan Upaya Water Bombing
Krisis BBM Bali Belum Usai, Warga Rela Menunggu Berjam-jam di Depan Pom Bensin Pengosekan
Nahas, Dua Balita Tewas Terjebak Kebakaran di Tenggarong Meski Sang Ayah Nekat Menerjang Kobaran Api