Alasannya sederhana, jika semua daerah memasak bahan yang sama secara bersamaan, hal itu bisa memicu lonjakan permintaan dan berdampak pada kenaikan harga di pasar.
Dadan mencontohkan kejadian saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu.
Saat itu, menu nasi goreng dan telur dibagikan kepada sekitar 36 juta penerima manfaat, sehingga kebutuhan telur melonjak drastis hingga 36 juta butir atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya, harga telur sempat naik hingga Rp3.000 di pasaran.
Baca Juga: Prancis Bantu Lebanon Negosiasi dengan Israel, Emmanuel Macron Siapkan Dukungan Penuh
Untuk menghindari gejolak harga, setiap daerah diberikan keleluasaan menentukan menu sesuai dengan ketersediaan bahan pangan lokal dan kebiasaan masyarakat setempat.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga mendorong pemberdayaan sumber daya lokal serta memastikan makanan yang disajikan lebih sesuai dengan selera masyarakat.
“Kalau dipaksakan menu nasional yang sama, tekanannya pasti tinggi dan harga bisa naik. Maka kita sesuaikan dengan potensi daerah masing-masing,” ujar Dadan. ***