INSIBERNEWS - Amerika Serikat dikabarkan telah menyampaikan kepada Israel dan para mediator bahwa fase kedua rencana gencatan senjata di Gaza yang diusulkan Presiden Donald Trump akan mulai diberlakukan pada awal Januari. Informasi ini muncul di tengah proses negosiasi lanjutan yang masih berlangsung intensif.
Sejumlah media Israel melaporkan, langkah Washington tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Israel.
Mereka menilai fase lanjutan gencatan senjata berpotensi berjalan tanpa kejelasan soal perlucutan senjata kelompok bersenjata di Gaza, yang selama ini menjadi tuntutan utama Tel Aviv.
Baca Juga: Akses Putus Tak Kunjung Pulih, Warga Syiah Utama Bener Meriah Masih Bertahan dalam Keterisolasian
Kesepakatan gencatan senjata dua fase itu sebelumnya tercapai melalui jalur diplomasi yang melibatkan Mesir, Qatar, dan Turki. Ketiga negara berperan sebagai mediator dalam upaya menghentikan pertempuran sekaligus membuka ruang negosiasi politik lanjutan antara pihak-pihak terkait.
Channel televisi berbahasa Ibrani mengutip pernyataan seorang pejabat senior Israel yang menyebutkan bahwa utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, telah memberikan pemberitahuan langsung kepada Israel dan para mediator mengenai rencana dimulainya fase kedua tersebut.
“Utusan AS menyampaikan bahwa fase kedua perjanjian Gaza dijadwalkan dimulai pada awal Januari,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip media setempat.
Baca Juga: Bertahan di Atap Saat Diterjang Banjir, Warga Aceh Tamiang Kenang Malam Panjang Bersama 18 Orang
Meski demikian, sumber yang sama menyebut Israel masih menyimpan kegelisahan. Pemerintah Israel khawatir tekanan dari Washington akan mendorong implementasi fase kedua tanpa adanya komitmen nyata untuk melucuti senjata di wilayah Gaza.
“Israel tidak ingin masuk ke fase lanjutan tanpa kepastian soal keamanan dan perlucutan senjata,” kata pejabat itu lagi.
Di sisi lain, Amerika Serikat disebut berupaya menjaga momentum gencatan senjata agar tidak kembali runtuh. Washington menilai fase kedua penting untuk memastikan stabilitas jangka pendek, membuka jalur bantuan kemanusiaan, serta menciptakan ruang dialog politik yang lebih luas.
Baca Juga: Kemhan Bantah Isu Pelantikan Ayu Aulia, Tegaskan Tak Ada Penugasan Resmi
Para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki juga dikabarkan masih aktif menjembatani perbedaan pandangan antara Israel dan pihak-pihak lain. Fokus utama mereka adalah memastikan setiap fase kesepakatan berjalan berurutan tanpa memicu eskalasi baru di lapangan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel maupun Gedung Putih terkait rincian teknis fase kedua gencatan senjata tersebut. Namun, dinamika diplomatik yang mengemuka menunjukkan bahwa awal Januari akan menjadi periode krusial bagi masa depan kesepakatan Gaza.***