INSIBERNEWS - Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Minggu (19/10), menambah panjang daftar korban di wilayah yang sudah lama dilanda konflik.
Sedikitnya 33 orang dilaporkan tewas, termasuk anak-anak dan seorang jurnalis, menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza.
Jumlah ini meningkat dari laporan awal yang mencatat 21 korban jiwa, menandakan serangan kali ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Resmi jadi Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik RK, Lisa Mariana Diperiksa Polisi Hari ini
Juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyebutkan bahwa ledakan terjadi hampir bersamaan di sejumlah wilayah, seperti Kota Zuwaida, Nuseirat, Khan Yunis, hingga Jabalia.
Banyak korban ditemukan di antara reruntuhan bangunan, sementara tim penyelamat terus berjuang mencari korban selamat di tengah keterbatasan alat dan bahan bakar.
“Beberapa tenda pengungsi ikut hancur. Mereka yang tewas sebagian besar adalah warga sipil yang tidak punya tempat lagi untuk berlindung,” ujar Bassal. Suaranya terdengar lirih, menggambarkan betapa kacaunya situasi di lapangan.
Serangan udara ini terjadi hanya beberapa hari setelah kedua pihak—Israel dan Hamas—disebut-sebut telah menyetujui gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun kenyataannya, tembakan dan ledakan kembali memenuhi langit Gaza pada Minggu pagi, menandai rapuhnya kesepakatan tersebut.
Militer Israel melalui pernyataannya menyebut bahwa operasi terbaru difokuskan untuk menghancurkan “pusat komando” Hamas di wilayah selatan Gaza. Mereka juga mengklaim bahwa serangan dilakukan sebagai respons atas roket yang diluncurkan dari wilayah Gaza ke permukiman di Israel bagian selatan.
Baca Juga: Kreator YouTube Kini Tak Hanya Andalkan Adsense, Ini Cara Baru Mereka Raup Cuan
“Kami menyerang puluhan target militer yang terkait dengan kelompok Hamas,” bunyi pernyataan resmi dari pihak militer Israel. Meski begitu, mereka mengaku masih memverifikasi laporan mengenai jatuhnya korban sipil akibat serangan tersebut.
Sementara itu, warga Gaza menggambarkan malam tersebut sebagai salah satu malam paling mengerikan sepanjang tahun ini. Suara pesawat tempur terdengar tanpa henti, dan listrik padam hampir di seluruh wilayah.
Rumah sakit setempat juga kewalahan menerima korban luka yang datang bertubi-tubi. Banyak tenaga medis yang bekerja tanpa istirahat, bahkan beberapa di antaranya juga kehilangan anggota keluarga akibat serangan.
Artikel Terkait
TANPA LIBUR! Prabowo Kebut Rapat di Kertanegara Hari Minggu, Hanya Bahas 1 Topik Krusial: Kekuatan SDM Berbasis STEM
TRAGIS! Truk Bermuatan Semen Terbalik di Pandeglang, 2 Penumpang Tewas Tertimpa Muatan 8 Ton
Gencatan Senjata di Gaza Terancam Runtuh, Israel Kembali Luncurkan Serangan Udara
Selena Gomez Tanggapi Sindiran Hailey Bieber Soal Perbandingan Brand Kecantikan, Begini Katanya
Mobil Listrik Kian Digemari, Produksi dan Penjualan NEV China Melejit di 2025
Kreator YouTube Kini Tak Hanya Andalkan Adsense, Ini Cara Baru Mereka Raup Cuan
Max Verstappen Dominasi GP Amerika Serikat 2025, Kukuhkan Diri Sebagai Raja Austin
Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ini Deretan 3 Menteri yang Dapat Tingkat Kepuasan Publik Tertinggi
Perlintasan Tanpa Palang Kembali Makan Korban! Minibus Tertabrak KA Mataram di Purworejo, 2 Orang Tewas di Tempat
Resmi jadi Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik RK, Lisa Mariana Diperiksa Polisi Hari ini