INSIBERNEWS - Perayaan Natal di Jalur Gaza tahun ini berlangsung dalam suasana yang jauh dari kata meriah. Alih-alih dentang lonceng gereja dan nyanyian pujian, warga justru diselimuti suara dengungan drone dan lalu lalang kendaraan militer yang terus berjaga.
Bagi komunitas Kristen setempat, Natal 2025 menjadi momen penuh keprihatinan. Perayaan yang biasanya diisi dengan ibadah bersama dan kegiatan komunal terpaksa dilakukan secara terbatas, bahkan sebagian besar hanya berlangsung dalam doa pribadi di rumah masing-masing.
Baca Juga: Punya Gangguan Insomnia? Sebaiknya Hindari Dulu Konsumsi Makanan Ini
Sejumlah gereja di Gaza memilih mengurangi aktivitas Natal atau membatalkan perayaan terbuka demi alasan keamanan. Situasi yang tidak menentu membuat umat Kristen tidak dapat berkumpul seperti tahun-tahun sebelumnya, meski makna Natal tetap mereka hayati secara batin.
“Kami tetap merayakan Natal, tetapi dalam diam dan doa,” ujar seorang warga Kristen Gaza.
“Keselamatan menjadi hal utama di tengah kondisi yang sulit ini.”
Baca Juga: Siap Tayang Lebaran 2026, ‘Danur: The Last Chapter’ Jadi Penutup Kisah Risa
Di tengah suasana Natal yang muram, ketegangan juga terjadi di wilayah Tepi Barat. Tentara Israel dilaporkan menangkap tiga warga Palestina di wilayah Haris dan Deir Istiya dengan tuduhan melempar batu ke jalan utama yang dilalui kendaraan.
Penangkapan tersebut menambah daftar panjang insiden keamanan yang terjadi menjelang akhir tahun. Aparat Israel meningkatkan patroli dan operasi di sejumlah wilayah yang dinilai rawan bentrokan.
Ketegangan regional juga merembet ke wilayah Lebanon. Serangan dilaporkan terjadi di Ansariyah, Lebanon selatan, sementara sebuah drone menghantam mobil di kawasan Hoch al-Sayyed Ali, Lembah Bekaa, Lebanon timur.
Baca Juga: Arus Libur Nataru Mengalir Deras, Stasiun Pasar Senen Jadi Titik Padat Kedua di Jakarta
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa konflik belum menunjukkan tanda mereda, bahkan di momen yang seharusnya menjadi waktu damai dan refleksi bagi banyak orang di seluruh dunia.
Di tengah keterbatasan dan ancaman, komunitas Kristen Gaza tetap menggenggam harapan. Natal kali ini mereka maknai sebagai pengingat akan keteguhan iman dan doa agar perdamaian suatu hari benar-benar hadir di tanah yang lama dilanda konflik.***
Artikel Terkait
Banjir Bandang Datang Lagi, Permukiman Warga Maninjau Agam Kembali Terendam
Detik-Detik Gedung Parkir Ambruk di Koja, 5 Kendaraan Ringsek Kena Reruntuhan
Rayakan Natal 2025, Justin Bieber Pamer Momen Hangat Bareng Anaknya Jack Blues
Sebulan Penuh Menyisir Lokasi, Basarnas Akhiri Pencarian Korban Banjir di Aceh
Zelenskyy Ungkap Sinyal Baru Perdamaian, Ukraina-AS Bahas Skema Akhiri Perang
Harga Emas Antam Kembali Menguat, Naik Rp13.000 per Gram di Akhir Pekan
Arus Libur Nataru Mengalir Deras, Stasiun Pasar Senen Jadi Titik Padat Kedua di Jakarta
MUI Ajak Isi Malam Tahun Baru dengan Doa, Wujud Empati untuk Korban Banjir Sumatra
Siap Tayang Lebaran 2026, ‘Danur: The Last Chapter’ Jadi Penutup Kisah Risa
Punya Gangguan Insomnia? Sebaiknya Hindari Dulu Konsumsi Makanan Ini