Saat itu, ia sedang berada di sebuah warung bertingkat, tempat yang tanpa disadari menjadi perlindungan pertama.
"Sebelum airnya naik, saya pergi ke warung yang bertingkat," tuturnya.
Warung tersebut menyediakan ketinggian yang cukup untuk menghindari arus deras.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya berhasil menyusul. Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Dalam proses evakuasi, bocah itu sempat terpeleset dan hampir terseret arus banjir.
Baca Juga: Hadirkan Bank Terapung, Mari Kenalan dengan Teras BRI Kapal yang Dinanti Masyarakat Kepulauan
"Saya jatuh, lalu ditemukan, kaki saya dipegang sebelum dibawa air," kenangnya.
Momen itu menjadi bukti betapa tipisnya batas keselamatan saat bencana alam terjadi.
Meski masih diliputi trauma, bocah tersebut menutup ceritanya dengan doa yang penuh ketulusan bagi warga yang juga terdampak banjir bandang Aceh.
"Semoga semua keluarga di sini sehat dan dimudahkan rezekinya," ujarnya.
Doa sederhana itu mencerminkan ketegaran seorang anak yang baru saja melalui pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya.***