INSIBERNEWS - Pemerintah kembali menaruh harapan besar pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai pendorong utama konsumsi rumah tangga di penghujung 2025.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meyakini kucuran BLT sebesar Rp900 ribu bagi 35 juta keluarga penerima manfaat (KPM) akan menambah daya beli masyarakat secara signifikan pada kuartal IV-2025.
Optimisme ini muncul setelah konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2025 mengalami perlambatan paling tajam dalam 14 tahun terakhir—tidak termasuk periode pandemi. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai tren belanja masyarakat yang biasanya menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Menkomdigi Tegaskan Bakal Tertibkan Pedagang Thrifting: Dilarang Jualan di E-commerce dan Medsos!
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu, menjelaskan bahwa BLT ini menyasar kelompok masyarakat di empat desil terbawah. Kelompok ini dikenal memiliki marginal propensity to consume yang sangat tinggi, artinya hampir seluruh tambahan pendapatan yang mereka terima akan dibelanjakan kembali.
“Artinya kalau kita tambah Rp900 ribu uang ke kantong masyarakat, mereka langsung membelanjakan paling tidak 90 persen dari Rp900 ribu tersebut,” ujar Febrio dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta.
Menurutnya, perilaku konsumsi kelompok rentan tersebut menjadi alasan pemerintah mempercepat dan memperluas penyaluran bantuan, agar pergerakan ekonomi terutama sektor ritel, pangan, dan kebutuhan pokok dapat kembali bergairah.
Baca Juga: TERUNGKAP! Pelaku Penculikan Alvaro Kiano Ternyata Ayah Tiri, Polisi Masih Selidiki Motifnya
Febrio menuturkan, suntikan dana BLT pada akhir tahun juga diperkirakan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang lebih cepat dibandingkan stimulus fiskal lain. Hal ini karena penerima manfaat cenderung menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan mendesak yang langsung menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah terus memantau efektivitas penyaluran bantuan melalui berbagai kanal, termasuk pemerintah daerah dan lembaga penyalur. Kecepatan distribusi BLT disebut menjadi faktor kunci agar dampaknya dapat terlihat dalam data pertumbuhan kuartal berikutnya.
Baca Juga: Kabar Duka, Mantan Kiper Timnas Indonesia Ronny Pasla Tutup Usia di Usia 79 Tahun
Selain itu, Kemenkeu menegaskan bahwa kebijakan fiskal di akhir 2025 memang diarahkan untuk menjaga momentum konsumsi dan stabilitas ekonomi, terlebih di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar.
Dengan penyaluran BLT yang masif dan terarah, pemerintah berharap tren konsumsi rumah tangga bisa kembali naik dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di sisa tahun 2025.***