INSIBERNEWS - Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan arah baru dalam kebijakan efisiensi anggaran negara. Ia menolak pandangan lama yang menyamakan efisiensi dengan pemangkasan belanja kementerian dan lembaga.
Menurutnya, efisiensi sejati bukan berarti memangkas, melainkan memastikan setiap rupiah anggaran bekerja dan tidak mengendap di kas negara.
Baca Juga: BGN Soroti Permintaan Telur dan Ayam Melejit Gegara Program Makan Bergizi Gratis, Harga Jadi Naik?
“Coba definisikan, efisiensi itu apa? Kalau sekadar mengurangi anggaran K/L, itu bukan efisiensi, itu namanya potong anggaran,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 7 Oktober 2025.
Ia menegaskan bahwa efisiensi yang ia maksud lebih kepada penataan arus kas negara. Bukan mengubah struktur anggaran, tapi memastikan dana publik digunakan sesuai kebutuhan, bukan menganggur tanpa manfaat.
“Kalau ada uang yang belum digunakan, saya pindahkan ke pos lain yang lebih siap. Anggarannya tetap, hanya tempatnya yang berbeda,” jelasnya.
Baca Juga: 18 Gubernur Geruduk Kantor Menkeu: Protes Pemotongan Dana Daerah, Desak Pusat Tanggung Gaji ASN
Dengan cara ini, Purbaya ingin menghindari beban keuangan akibat dana menganggur. Ia mencontohkan, setiap Rp100 triliun dana yang tidak dipakai tetap menimbulkan bunga utang hingga Rp6 triliun.
“Bayangkan kalau ada Rp400 triliun nganggur, berarti saya harus bayar bunga Rp24 triliun untuk uang yang tidak bekerja. Itu pemborosan,” tegasnya.
Pendekatan ini, kata Purbaya, menjadi ciri khas efisiensi ala dirinya—bukan soal memangkas belanja, melainkan mengalirkan dana agar tepat sasaran dan memberi dampak nyata.
Baca Juga: Prabowo Lantik 10 Dubes dan 1 Wakil Dubes Baru, Berikut Daftar Namanya
Ia menilai cara lama berupa pemblokiran anggaran justru membuat realisasi program menjadi lambat dan menimbulkan ketidakpastian bagi kementerian serta lembaga.
“Kalau memang nggak mampu jalankan program, ya coret aja sekalian. Jangan dibintangi-bintangi. Itu cuma bikin bingung,” sindirnya.
Sebagai bagian dari reformasi kebijakan fiskal, Purbaya juga berfokus pada efisiensi lewat pengelolaan kas atau cash management system yang lebih adaptif.