news

BGN Soroti Permintaan Telur dan Ayam Melejit Gegara Program Makan Bergizi Gratis, Harga Jadi Naik?

Kamis, 9 Oktober 2025 | 08:38 WIB
Potret Kepala BGN Dadan Hindayana (Instagram/badangizinasional.ri)

INSIBERNEWS - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menanggapi soal kenaikan harga ayam yang mulai dirasakan di pasaran belakangan ini.

Ia menilai, lonjakan tersebut salah satunya dipicu oleh kebutuhan tinggi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini sedang digencarkan pemerintah.

Menurut Dadan, program ini memang berdampak langsung pada meningkatnya permintaan bahan pangan bergizi, terutama ayam dan telur. Ia bahkan mengakui pernyataan dari Wakil Ketua Kadin Indonesia yang menyebut kenaikan harga ayam terjadi karena meningkatnya kebutuhan untuk program MBG.

Baca Juga: 18 Gubernur Geruduk Kantor Menkeu: Protes Pemotongan Dana Daerah, Desak Pusat Tanggung Gaji ASN

“Saya kira ada benarnya. Sekarang dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai beroperasi, otomatis kebutuhan ayam meningkat cukup signifikan,” ujar Dadan saat ditemui di Jakarta, Selasa, 7 Oktober 2025.

Dadan menjelaskan, setiap dapur SPPG rata-rata harus melayani sekitar 3.000 penerima manfaat. Artinya, dalam sekali memasak menu ayam saja, kebutuhan daging bisa mencapai 350 ekor ayam atau sekitar 350 kilogram.

Jika dapur tersebut memasak dua kali dalam sepekan, maka kebutuhan ayam bisa tembus 700 ekor per minggu, atau hampir 3.000 ekor per bulan hanya untuk satu dapur.

Baca Juga: Bitcoin Cetak Rekor Baru Capai USD126 Ribu, Pasar Kripto Makin Percaya Diri di Tengah Guncangan Global

“Kalau dikalikan dengan jumlah SPPG di seluruh Indonesia, tentu kebutuhan ayamnya luar biasa besar. Itu sebabnya, tekanan terhadap harga di pasar jadi sulit dihindari,” jelasnya.

Selain daging ayam, kebutuhan telur pun ikut melonjak. Setiap dapur membutuhkan sekitar 3.000 butir telur, yang berarti sedikitnya harus ada pasokan dari 4.000 ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan harian program tersebut. Kondisi ini, kata Dadan, menjadi sinyal kuat bahwa rantai pasok ayam dan telur perlu diperkuat.

Baca Juga: Prabowo Lantik 10 Dubes dan 1 Wakil Dubes Baru, Berikut Daftar Namanya

Ia menilai, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah menambah jumlah peternak baru. Tanpa itu, suplai daging ayam dan telur bisa terganggu.

“Kalau peternak baru tidak tumbuh, saya kira kita akan menghadapi kelangkaan dalam waktu dekat,” tegasnya.

Baca Juga: Dunia Hiburan Korea Berduka, Komedian Jung Se Hyup Tutup Usia di Usia 41 Tahun

Halaman:

Tags

Terkini