Niki menilai, kebijakan ini dapat membantu pekerja muda yang sering harus mengambil dua pekerjaan sekaligus demi menambah penghasilan.
Kendati demikian, mayoritas pekerja tetap khawatir kebijakan tersebut justru membuka celah pelanggaran ketenagakerjaan.
“Di saat negara-negara Eropa lain bicara soal minggu kerja lebih singkat, di Yunani abad ke-21 justru bicara soal jam kerja yang makin panjang dengan gaji yang tak sebanding,” kata salah seorang warga Yunani bernama Katerina.
Baca Juga: Jeon Hye Bin Jadi Korban Pencopetan di Bali, Uang Rp177 Juta Raib dalam Hitungan Menit
Gelombang Perlawanan Pekerja
Bagi para pekerja, aksi kali ini bukan sekadar protes, tetapi perlawanan untuk menjaga hak-hak dasar yang mereka nilai semakin tergerus.
“Kami bukan di sini untuk mengemis. Kami di sini untuk membela hak pekerja, terutama yang paling rentan dan tidak punya daya tawar,” tambah Katerina.
Dengan rancangan aturan yang diperkirakan akan segera disahkan bulan ini, gelombang perlawanan dari serikat pekerja dan masyarakat tampaknya masih akan terus berlanjut.
Baca Juga: KPK Terima Pengembalian Dana Biro Travel Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Yunani kini berada di persimpangan antara pilihan meningkatkan fleksibilitas pasar kerja atau mempertahankan martabat serta kesejahteraan para pekerjanya.***