Artinya, beban pelemahan rupiah relatif lebih terkendali. Namun, tekanan tetap ada, terutama jika faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kebijakan The Fed berlanjut.
Baca Juga: Snapchat Batasi Penyimpanan Memori, Hadirkan Paket Berbayar Hingga 5TB
Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Sayangnya, langkah itu dinilai belum mampu menahan pelemahan. “Sejak kemarin, meskipun BI aktif di DNDF, rupiah tidak banyak bergeming,” tambah Ibrahim.
Ke depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.730–Rp 16.800 per dolar AS untuk perdagangan harian.
Namun, risiko pelemahan ke Rp 17.000 tetap terbuka pada Oktober mendatang.
Baca Juga: Asrama Santri di Sidoarjo Ambruk, Evakuasi Masih Berlangsung dengan Alat Berat
Kondisi ini menuntut sinergi lebih erat antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar.
Investor kini menunggu sinyal kebijakan lanjutan, sembari memperhitungkan arah global yang masih penuh ketidakpastian.