Artinya, beban pelemahan rupiah relatif lebih terkendali. Namun, tekanan tetap ada, terutama jika faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kebijakan The Fed berlanjut.
Baca Juga: Snapchat Batasi Penyimpanan Memori, Hadirkan Paket Berbayar Hingga 5TB
Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Sayangnya, langkah itu dinilai belum mampu menahan pelemahan. “Sejak kemarin, meskipun BI aktif di DNDF, rupiah tidak banyak bergeming,” tambah Ibrahim.
Ke depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.730–Rp 16.800 per dolar AS untuk perdagangan harian.
Namun, risiko pelemahan ke Rp 17.000 tetap terbuka pada Oktober mendatang.
Baca Juga: Asrama Santri di Sidoarjo Ambruk, Evakuasi Masih Berlangsung dengan Alat Berat
Kondisi ini menuntut sinergi lebih erat antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar.
Investor kini menunggu sinyal kebijakan lanjutan, sembari memperhitungkan arah global yang masih penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sebut MBG Sudah Diterima 30 Juta Penerima Manfaat : Anak-Anak Kita Harus Cukup Makan, MBG Harus Berjalan Terus
Wajah Prabowo Muncul di Billboard Tel Aviv, Disandingkan dengan Trump hingga Netanyahu
Janji Patrick Kluivert: Siap Bikin Tato Jika Timnas Indonesia Tembus Piala Dunia 2026
Asrama Santri di Sidoarjo Ambruk, Evakuasi Masih Berlangsung dengan Alat Berat
Prabowo Perintahkan Operasi Besar Tutup Ribuan Tambang Timah Ilegal di Bangka Belitung
Buat Pemula, Jangan Lakukan Ini Kalau Baru Mulai Jadi Affiliator!
Snapchat Batasi Penyimpanan Memori, Hadirkan Paket Berbayar Hingga 5TB
Prabowo Canangkan 2.000 Desa Nelayan dan Cetak Sawah Baru, Target Sejahterakan Jutaan Warga
Polda Metro dan Bea Cukai Gagalkan Peredaran 15 Kg Ganja di Bekasi, Satu Pelaku Ditangkap
Ustaz di Bekasi Diciduk Polisi, Diduga Cabuli Anak Angkat dan Keponakan Selama Bertahun-tahun