news

Tragis! Berawal dari Cabut Gigi di Klinik, Hengki Alami Kebutaan Permanen

Rabu, 9 Juli 2025 | 16:59 WIB
Hengki alami kebutaan usai cabut gigi di klinik (Istimewa)


INSIBERNEWS – Siapa sangka rasa tidak nyaman di mulut bisa mengubah hidup seseorang selamanya?

Itulah yang dialami Hengki Saputra (30), warga Korong Koto Tabang, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Gara-gara prosedur medis yang tampaknya sederhana, mencabut gigi, Hengki kini harus menjalani hidup dalam kegelapan. Ia mengalami kebutaan permanen.

Baca Juga: Rencana Pernikahan Hancur, Hani EXID Curhat Soal Hidup: 'Apakah Aku Boleh Hidup Seperti Ini?'

Peristiwa ini bermula saat Hengki mengeluhkan tumbuhnya gigi tak biasa di langit-langit mulut bagian kanan.

Awalnya hanya terasa mengganggu, namun kemudian berkembang menjadi nyeri yang tak tertahankan.

Demi mengakhiri penderitaannya, Hengki mendatangi sebuah klinik di Kota Pariaman. Di sanalah segalanya berubah drastis.

Baca Juga: Salah Lirik Saat Nyanyikan Lagu Indonesia Raya di Turnamen Piala Presiden 2025, Rita Butar Butar Tuai Sorotan

Gigi tersebut langsung dicabut oleh seorang dokter gigi berinisial RN tanpa rujukan lanjutan dan tanpa observasi mendalam.

Malam itu, darah mengucur deras dari area bekas pencabutan. Keluarga panik. Namun pihak klinik menenangkan mereka, mengatakan prosedurnya aman dan tidak akan menimbulkan efek samping apa pun.

Namun kenyataannya jauh dari harapan. Setelah kejadian itu, kondisi Hengki memburuk. Matanya mulai kehilangan daya lihat hingga akhirnya benar-benar gelap total.

Baca Juga: BRI Berhasil Salurkan Bantuan Subsidi Upah Senilai Rp1,72 Triliun ke 2,8 Juta Pekerja

Nurhasni, ibunda Hengki, mengenang malam tragis tersebut dengan air mata yang terus mengalir.

"Kami sudah habis-habisan, sampai jual 15 emas untuk biaya pengobatan. Tapi waktu kami minta pertanggungjawaban, justru nomor kami diblokir," ujarnya getir, Selasa (8/7).

Lebih menyakitkan, pihak klinik terkesan mengecilkan peristiwa itu. Salah satu staf klinik bahkan sempat mengatakan, “Masa iya karena cabut gigi.”

Baca Juga: Awalnya Menolak, Mantan Suami Lee Si Young Angkat Bicara Soal Kehamilan Anak Ke-2

Ungkapan yang bagi keluarga terdengar seperti cemoohan di tengah penderitaan mereka.

Pihak klinik sempat menginisiasi mediasi, namun tak pernah menghasilkan titik terang. Hingga saat ini, tak ada klarifikasi resmi, tak ada permintaan maaf, dan tak ada peninjauan ulang oleh pihak medis atau penegak hukum. Kasus ini seolah menguap begitu saja.

Padahal, secara medis, pencabutan gigi yang tidak dilakukan dengan prosedur standar bisa berdampak serius.

Baca Juga: Janji Pembangunan Tinggal Wacana, Dana Desa Cipaku Raib Demi Judi Online dan Diamond Game

Infeksi dapat menyebar ke jaringan saraf dan, dalam kasus tertentu, mencapai otak atau mata menyebabkan komplikasi parah, bahkan kebutaan.

Kini, Hengki hanya bisa duduk di rumah, meraba dinding yang dulu dikenalnya dengan mata terbuka. Sementara keluarganya masih berjuang mencari keadilan, meski jalan itu terasa sunyi dan penuh tembok pengabaian.

“Kami cuma minta keadilan. Jangan sampai ada Hengki lain,” ucap sang ibu, lirih namun tegas.

Baca Juga: Elon Musk Kehilangan Rp244 Triliun dalam Sehari, Saham Tesla Terseret Drama Politik

Apa yang dialami Hengki memang terdengar tak masuk akal bagi orang awam. Namun secara medis, kebutaan akibat komplikasi dari pencabutan gigi bukanlah hal mustahil.

Menurut jurnal BMJ Case Reports (2020), infeksi dari rongga mulut, terutama dari gigi atas atau sinus maksilaris, dapat menyebar ke rongga orbit (mata) melalui jalur pembuluh darah dan jaringan lunak, yang dapat menyebabkan orbital cellulitis (infeksi mata serius) atau bahkan thrombosis sinus kavernosus, kondisi yang berpotensi menyebabkan kebutaan permanen atau bahkan kematian.

Sementara itu, jurnal dari Journal of Oral and Maxillofacial Surgery (2017) mencatat bahwa meskipun jarang, komplikasi ini meningkat risikonya bila prosedur dilakukan tanpa sterilisasi yang benar, tanpa pengawasan radiologis, atau oleh praktisi yang kurang kompeten.

Baca Juga: Ledakan Dahsyat Rusak Dua Unit dan Lift di Apartemen City Park, Diduga Akibat Tabung Gas Bocor

Salah satu studi mencatat tingkat komplikasi pasca cabut gigi mencapai 3–5%, dan sebagian kecil di antaranya mengarah pada infeksi serius pada mata dan otak.

Tragedi ini mengingatkan kita bahwa kesalahan medis bukan sekadar angka statistik ia nyata, menghancurkan harapan, dan bisa membuat seseorang kehilangan seluruh masa depannya.

Tags

Terkini