Sorotan lain yang tak kalah penting adalah pelayanan untuk jemaah lanjut usia (lansia) dan penanganan jemaah yang sakit. Dengan jumlah jemaah lansia yang terus meningkat, kebutuhan akan fasilitas ramah lansia, seperti kursi roda dan petugas pendamping, jadi keharusan. Belum lagi, kasus jemaah yang jatuh sakit atau wafat di Tanah Suci menunjukkan perlunya sistem kesehatan yang lebih responsif.
Data Kementerian Agama mencatat, hingga akhir Juni 2025, lebih dari 200 jemaah Indonesia meninggal dunia selama haji, sebagian besar karena faktor usia dan penyakit bawaan.
“Jemaah lansia dan yang punya riwayat sakit harus diprioritaskan. Jangan sampai mereka merasa terabaikan,” kata Puan.
Baca Juga: Tinggalkan Pesan Perpisahan, ILY:1 Isyaratkan Bubar?
Dukungan untuk pembentukan Pansus Haji mengalir dari berbagai fraksi di DPR. Anggota Komisi VIII dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, menegaskan bahwa evaluasi haji bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud tanggung jawab kepada jemaah yang berjuang menunaikan ibadah.
“Haji itu soal martabat. Jemaah kita adalah tamu Allah, jadi layanannya harus setara dengan kehormatan itu,” ujarnya.
DPR berharap, lewat pansus, pemerintah dan penyelenggara haji bisa duduk bersama untuk menyusun roadmap perbaikan, mulai dari manajemen logistik hingga pelatihan petugas. Dengan begitu, haji 2026 bisa jadi momen ibadah yang lebih bermakna, tanpa keluhan yang berulang.