news

Serangan DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah: 37,4 Terabyte dalam 45 Detik, Dunia Siber Dibikin Panik

Senin, 23 Juni 2025 | 18:23 WIB
ilustrasi hacker (freepik)

INSIBERNEWS - Dunia maya kembali diguncang oleh serangan siber yang skalanya benar-benar luar biasa. Sebuah gelombang serangan Distributed Denial of Service (DDoS) dilaporkan menghantam sistem digital dengan kecepatan dan volume data yang belum pernah terjadi sebelumnya—mencapai 37,4 terabyte hanya dalam kurun waktu 45 detik.

Serangan masif ini berhasil dicegah oleh raksasa keamanan internet, Cloudflare, sebelum sempat menimbulkan dampak besar terhadap layanan digital yang menjadi target.

Baca Juga: Nekat! Seorang Pria Panjat Genteng Rumah Warga Usai Terciduk Lakukan Pelecehan Seksual di Bekasi

Menurut laporan resmi dari Cloudflare, serangan tersebut menyasar satu alamat IP tunggal dengan lalu lintas jahat yang melonjak hingga 7,3 terabit per detik (Tbps). Untuk memberikan gambaran betapa masifnya data yang dikerahkan, Cloudflare menyamakan volume data tersebut dengan sekitar 9.000 film beresolusi tinggi yang dikirim bersamaan dalam waktu kurang dari semenit.

Namun bukan hanya soal jumlah, yang paling mengejutkan adalah intensitas pengiriman yang berlangsung sangat cepat dan tak memberi ruang sistem untuk bernapas.

Baca Juga: Yamaha Luncurkan Fazzio dengan Tampilan Segar dan Warna Baru, Inovasi atau Gimmick?

Pihak Cloudflare menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan protokol User Datagram Protocol (UDP) sebagai senjata utama. Protokol ini dikenal ringan dan cepat karena tidak memerlukan proses verifikasi koneksi dua arah seperti TCP.

Hal inilah yang dimanfaatkan penyerang untuk mengirimkan lalu lintas dalam jumlah besar secara serentak ke target. Karena UDP tidak melakukan pemeriksaan apakah data diterima atau tidak, sistem target akan kewalahan menerima limpahan trafik tanpa henti.

Baca Juga: Waspada! Judi Online Bikin Anak Kecanduan Parah, Dampaknya Setara Narkoba

Selain metode UDP flood, penyerang juga menjalankan serangan refleksi dengan cara memalsukan alamat IP korban. Permintaan data kemudian dikirim ke server-server pihak ketiga seperti NTP (Network Time Protocol), QOTD (Quote of the Day), hingga Echo protocol.

Server-server ini kemudian tanpa sadar mengirim balasan ke IP korban, menyebabkan korban seolah diserang dari berbagai arah padahal tidak pernah meminta data tersebut. Teknik semacam ini kerap dipakai untuk menyamarkan identitas pelaku dan menyulitkan pelacakan sumber serangan.

Baca Juga: MIRIS! Bocah 10 Tahun Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Pelaku Masih Diburu Polisi

Yang patut disyukuri, sistem pertahanan Cloudflare terbukti tangguh dalam menghadapi gempuran tersebut. Semua lalu lintas berbahaya berhasil diredam tanpa menimbulkan gangguan layanan yang berarti.

Namun, peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa skala dan kecanggihan serangan siber terus berkembang, dan sistem keamanan harus terus beradaptasi untuk melindungi pengguna internet di seluruh dunia.

Halaman:

Tags

Terkini