INSIBERNEWS – Kebijakan tarif Presiden Donald Trump kembali jadi sorotan setelah ia mengumumkan kenaikan tarif impor baja dan aluminium menjadi 50 persen.
Langkah ini disebut-sebut sebagai strategi untuk "menghidupkan kembali" industri dalam negeri Amerika, terutama setelah kesepakatan besar antara Nippon Steel Jepang dan U.S. Steel senilai USD 14,9 miliar.
Namun, seperti biasa, langkah Trump ini tak lepas dari kontroversi. Apakah ini bentuk patriotisme ekonomi, atau sekadar drama dagang global?
Baca Juga: Trump Umumkan Kenaikan Tarif Baja dan Aluminium Jadi 50 Persen, Klaim Lindungi Industri Dalam Negeri
Tarif yang digandakan ini bukan hanya menyasar produsen kecil, tapi juga bisa memicu ketegangan lanjutan dengan negara pemasok utama, termasuk China.
Walau China kini hanya sedikit mengekspor baja ke AS, Trump menuduh mereka telah melanggar kesepakatan dagang terkait ekspor mineral penting.
Ketegangan ini berpotensi memicu efek domino dalam rantai pasok global, terutama di sektor otomotif dan teknologi, yang sangat bergantung pada logam dan mineral dari China.
Baca Juga: Polemik Kebijakan Trump, Putri Presiden China Pernah Kuliah Di Harvard Pakai Nama Samaran
Kenaikan tarif ini memang sempat mendongkrak saham perusahaan baja di AS seperti Cleveland-Cliffs Inc, yang melonjak 26 persen.
Tapi di sisi lain, konsumen dan pelaku industri lain bisa jadi korban. Harga barang-barang yang menggunakan bahan baja dan aluminium – dari kompor gas hingga komponen mobil – bisa ikut naik.
Dalam jangka panjang, efek ini bisa menyentuh dompet masyarakat biasa, bukan cuma neraca perdagangan.
Baca Juga: Polemik Kebijakan Trump, Putri Presiden China Pernah Kuliah Di Harvard Pakai Nama Samaran
Trump berdalih bahwa strategi tarif ini adalah "negosiasi keras" yang perlu dilakukan agar AS tidak terus dimanfaatkan dalam sistem dagang global.
Namun, tanpa kesepakatan yang jelas dengan negara seperti China, langkah ini bisa berujung pada perlambatan ekonomi, terutama jika negara lain membalas dengan tarif serupa.