INSIBERNEWS - Ancaman krisis iklim kembali menghantui dunia. Dalam laporan terbarunya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa ada kemungkinan sebesar 70 persen suhu rata-rata global dari tahun 2025 hingga 2029 akan melewati ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius.
adalah batas yang selama ini dijadikan acuan utama dalam Perjanjian Paris 2015 untuk menjaga bumi tetap “aman” dari dampak perubahan iklim yang lebih ekstrem.
Baca Juga: Sambangi Borobudur bersama Macron, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Jaga Toleransi dan Budaya
Ko Barrett, Wakil Sekretaris Jenderal WMO, menyebutkan bahwa bumi baru saja melewati satu dekade terpanas dalam sejarah pencatatan suhu. Dua tahun terakhir, yakni 2023 dan 2024, bahkan tercatat sebagai tahun-tahun dengan suhu paling tinggi yang pernah tercapai.
Baca Juga: Kunjungi Borobudur Bersama Prabowo, Macron Ungkap Kagum dan Hormat untuk Indonesia
“Sayangnya, tidak ada tanda-tanda pemanasan global akan melambat. Ini berbahaya, bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga berdampak langsung pada perekonomian, kehidupan sosial, dan ekosistem global,” ujar Barrett.
Baca Juga: KPK Bongkar Skandal Suap TKA di Kemnaker, Pasar Kerja Lokal Terancam
Dalam laporan tersebut, WMO juga menyoroti kegagalan banyak negara dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca. Meskipun transisi menuju energi terbarukan mulai digaungkan, langkah-langkah nyata yang dilakukan masih jauh dari cukup.
Bahkan, sejumlah negara besar masih terus menggantungkan kebutuhan energinya pada bahan bakar fosil yang menjadi penyumbang utama pemanasan global.
Baca Juga: China Unjuk Gigi di Laut China Selatan, Bomber H-6 Mendarat di Pulau Sengketa
Dampaknya sudah mulai terasa. Kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, musim tanam yang tidak menentu, hingga ancaman kekeringan dan banjir kini mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak wilayah.
Kota-kota besar di negara berkembang, seperti Jakarta, menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampaknya. Selain ancaman tenggelam karena permukaan laut naik, penyedotan air tanah yang tak terkendali memperburuk situasi.
PBB menegaskan bahwa waktu untuk bertindak tidak lagi banyak. Dunia harus bersatu dalam langkah-langkah mitigasi yang lebih agresif dan konkret. Mempercepat penggunaan energi bersih, mengendalikan laju eksploitasi alam, serta memperkuat kolaborasi lintas negara menjadi syarat mutlak agar krisis ini tidak berubah menjadi bencana besar yang tak bisa dibalikkan.