INSIBERNEWS - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan pandangan berbeda soal penanganan penyalahgunaan narkoba di Sumatera Utara. Saat menghadiri Muktamar Persatuan Umat Islam (PUI), Gibran merespons keluhan Gubernur Sumut, Bobby Nasution, yang menyebut narkoba sebagai tantangan sosial terbesar di provinsinya.
Ia menyarankan agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tapi juga melibatkan pendekatan berbasis komunitas dan nilai-nilai keagamaan.
Baca Juga: PHK Terus Meningkat, DPR Desak Pemerintah Segera Ambil Langkah Konkret
Menurut Gibran, organisasi keagamaan seperti PUI bisa menjadi mitra strategis dalam upaya rehabilitasi sosial pengguna narkoba. Ia mencontohkan model penanganan di Jawa Barat, di mana anak-anak yang bermasalah kerap dikirim ke barak militer untuk dibina. Namun, Gibran menyebut pendekatan serupa bisa diterapkan di Sumut dengan versi yang lebih religius.
Baca Juga: Jakarta Siap Jadi Lokasi Uji Coba Vaksin TBC, Pramono: Kami Ikut Arahan Pemerintah Pusat
“Mungkin bisa diarahkan ke pondok-pondok pesantren yang dimiliki oleh PUI,” ujar Gibran dalam sambutannya yang disiarkan di kanal resmi BP2MI, Kamis (15/5/2025).
Baginya, pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga wadah pembinaan karakter dan pemulihan sosial. Ia menilai pendekatan ini bisa jadi solusi jangka panjang yang lebih manusiawi, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam merespons tantangan sosial yang makin kompleks.
Baca Juga: Wisata Berujung Maut, Mobil Elf Alami Rem Blong di Tawangmangu Tewaskan 5 Orang
Gibran juga menekankan pentingnya posisi Sumatera Utara dalam pembangunan nasional. Dengan jumlah penduduk terbesar di luar Jawa, provinsi ini dinilai punya potensi besar untuk memimpin transformasi sosial—termasuk dalam hal memberantas penyalahgunaan narkoba lewat sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil.
Baca Juga: Soal Ijab Qabul Maxime Bouttier Yang Sempat Menjadi Perdebatan, Luna Maya Beri Penjelasan Ini
Apresiasi juga disampaikan Gibran kepada PUI yang selama ini dinilainya konsisten menjaga persatuan serta aktif dalam upaya mencerdaskan umat. Ia berharap kemitraan antara ormas Islam, pesantren, dan pemerintah bisa menjadi gerakan kolektif yang efektif untuk menyelesaikan persoalan sosial secara berkelanjutan dan lebih bermartabat.