INSIBERNEWS - Situasi di Gaza selatan semakin mencekam setelah pasukan darat Israel mengepung kawasan Tel al-Sultan di Rafah. Akibatnya, sekitar 50 ribu warga Palestina terjebak tanpa akses yang memadai ke makanan dan air bersih.
Kondisi semakin diperparah dengan terbatasnya layanan medis, membuat warga yang terluka terpaksa "dibiarkan berdarah sampai mati" tanpa pertolongan.
Baca Juga: Komentar Kontroversial Dubes Israel: Usulkan Hukuman Mati bagi Anak Palestina?
Pengepungan ini dimulai sejak Minggu pagi (23/3/2025), ketika pasukan Israel menyebarkan selebaran yang memerintahkan warga untuk meninggalkan daerah tersebut.
"Sekitar pukul 8 pagi, mereka mulai menyebarkan selebaran pengusiran," kata Mais Hassouna, warga setempat, seperti dilaporkan Middle East Eye.
Namun, dengan jalanan yang sudah dikepung dan serangan udara yang terus berlangsung, banyak warga yang tak memiliki tempat tujuan.
Baca Juga: Park Bo Gum Curhat Berusaha Jadi Jelek Demi Peran di 'When Life Gives You Tangerines'
Hassouna juga mengungkapkan bahwa pasukan Israel menggunakan helikopter Apache dan drone untuk menembaki warga sipil secara acak.
"Malam itu benar-benar mengerikan dengan cara yang sulit dijelaskan. Saya merasa ingin menghilang dari dunia ini," tuturnya menggambarkan kepanikan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.
Baca Juga: Eks Kekasih Kim Sae Ron Bongkar Fakta Lain di Balik Kematian Mendiang: Bukan karena Kim Soo Hyun
Pemerintah kota Rafah memperingatkan bahwa Tel al-Sultan kini berada dalam situasi yang sangat berbahaya, menyebutnya sebagai
"sasarannya genosida." Ribuan warga, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia, kini terperangkap di bawah hujan bom tanpa jalur evakuasi yang aman.
Baca Juga: Jakarta Kekurangan Personel Damkar, Pramono Anung Ungkap Kriteria Perekrutan, Apa Saja?
Kondisi di Rafah semakin memicu kekhawatiran global, dengan banyak pihak mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan krisis kemanusiaan ini.