INSIBERNEWS - Mulai April mendatang, pemerintah Inggris akan meningkatkan anggaran Sovereign Grant yang diterima oleh keluarga kerajaan dari 56 juta dolar AS menjadi 165 juta dolar AS, atau sekitar Rp2,5 triliun.
Kebijakan ini menuai reaksi keras dari publik, mengingat kondisi anggaran Inggris yang tengah mengalami tekanan berat untuk mendanai sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
Baca Juga: Berapa Harta Kekayaan Gatut Sunu Wibowo? Calon Bupati Tulungagung yang Unggul di Pilkada 2024
Graham Smith, CEO Republic, organisasi yang memperjuangkan penghapusan monarki, menyebut peningkatan dana ini sebagai hal yang memalukan.
"Ini uang rakyat. Di saat pemerintah kesulitan mendanai rumah sakit, sekolah, bahkan polisi, uang sebesar itu malah diberikan kepada kerajaan," ujarnya, seperti dikutip dari People, Selasa (7/1/2024).
Smith menilai keputusan tersebut mencerminkan ketimpangan yang tidak adil dalam pengelolaan anggaran negara.
Baca Juga: Belum Ada Obatnya, Bagaimana Gejala dan Cara Mencegah Virus HMPV?
Istana Buckingham mencoba meredam kontroversi dengan menyebut bahwa sebagian besar dana tambahan ini akan digunakan untuk proyek renovasi besar-besaran senilai 462 juta dolar AS atau sekitar Rp7,4 triliun.
Renovasi ini direncanakan selesai pada 2027, namun pihak istana belum memberikan rincian transparan mengenai bagaimana dana tersebut akan dialokasikan. Hal ini memicu skeptisisme lebih lanjut di kalangan masyarakat.
Baca Juga: Usia Pensiun Di Indonesia Naik Jadi 59 Tahun Mulai 2025, Harus Siap Hadapi Tantangan Baru
Persoalan ini diperburuk oleh sorotan dari film dokumenter The King, The Prince and Their Secret Millions yang dirilis November lalu. Film tersebut mengungkapkan bagaimana Raja Charles III dan Pangeran William memperoleh pendapatan pribadi dari Kadipaten Lancaster dan Kadipaten Cornwall portofolio tanah yang juga menyewakan asetnya kepada instansi publik, termasuk NHS dan angkatan bersenjata.
Baca Juga: Situs YLBHI Diretas Lagi, Kini Muncul Tampilan Bahwa Situs Diblokir oleh KOMINFO
Tahun lalu, Kadipaten Lancaster memberikan 34,3 juta dolar AS (Rp553 miliar) kepada Raja, sementara Kadipaten Cornwall menyumbang 29,5 juta dolar AS (Rp476 miliar) kepada Pangeran William.
Publik Inggris semakin mempertanyakan relevansi monarki dalam kehidupan modern, terutama di saat negara menghadapi tantangan ekonomi yang berat.
Artikel Terkait
Segini Harta Kekayaan Joko Sarwono, Calon Wakil Bupati Tuban yang Menang di Pilkada 2024
Berapa Harta Kekayaan Gatut Sunu Wibowo? Calon Bupati Tulungagung yang Unggul di Pilkada 2024
3 Anggota Polisi yang Abaikan Laporan Bos Rental Mobil yang Kena Tembak Kini Diberi Sanksi Demosi
Situs YLBHI Diretas Lagi, Kini Muncul Tampilan Bahwa Situs Diblokir oleh KOMINFO
12 Inspirasi Nama Usaha Snack Kekinian untuk Generasi Milenial, Dijamin Bikin Pembeli Terpikat
15 Ide Nama Usaha Snack Pedas yang Menarik, Kreatif, dan Dijamin Menggoda Pelanggan
Apple Rencana Tanam Investasi Rp16 Triliun, Menperin: Masih Belum Cukup untuk Bangun Pabrik
Usia Pensiun Di Indonesia Naik Jadi 59 Tahun Mulai 2025, Harus Siap Hadapi Tantangan Baru
Belum Ada Obatnya, Bagaimana Gejala dan Cara Mencegah Virus HMPV?
PDIP Tuding Penggeledahan Rumah Hasto untuk Alihkan Isu Finalis Terkorup OCCRP