Melalui Pemberdayaan BRI, Bisnis Klaster Petani Salak Ini Melejit!

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Selasa, 29 Oktober 2024 | 09:24 WIB
Melalui Pemberdayaan BRI, Bisnis Klaster Petani Salak Ini Melejit! (Istimewa)
Melalui Pemberdayaan BRI, Bisnis Klaster Petani Salak Ini Melejit! (Istimewa)

INSIBERNEWS, Jakarta – Berupaya untuk meningkatkan kapasitas usaha dan penjualan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI gelar Bazaar UMKM BRILiaN di Kantor Pusat BRI, Jakarta pada Jumat (18/10/2024).

Dalam Bazaar ini, berbagai UMKM yang tergabung dalam klaster binaan BRI turut serta meramaikan acara.

Salah satunya datang dari Desa Kutambaru, Kabupaten Karo Sumatera Utara, yakni Kelompok Tani Jaya Lestari. Kelompok ini membawa produk unggulan berupa salak pondoh.

Baca Juga: Sudah Tahu? Ternyata Wakil Menteri Tidak Dapat Gaji Pokok, Kok Bisa?

Wulan, sebagai anggota kelompok mengungkapkan salak pondoh tumbuh subur di Desa Kutambaru dan menjadi produk penjualan utama bagi para warga. Salak pun menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan perekonomian masyarakat desa di sana.

“Berawal pada tahun 2005 di kampung kami mayoritas orang-orang menanam salak. Seiring berjalannya waktu, hampir satu kampung menjadi petani salak semua,” ujarnya saat diwawancarai pada saat acara Bazaar UMKM BRILian.

Salak yang terkenal manis ini menjadi sebuah keberhasilan budidaya dan memberikan dampak positif, menjadikan perekonomian Desa Kutambaru semakin baik.

Baca Juga: Inspirasi Dekorasi Kamar Tidur Kecil yang Hemat Tempat dan Fungsional untuk Hunian Nyaman

Salak pondoh yang dikembangkan oleh kelompok ini tidak hanya membantu para petani, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Klaster petani salak hadir di Bazaar UMKM BRILiaN (Istimewa)

Dengan harga jual Rp15.000- Rp18.000 per kilogram, produk salak pondoh dari Desa Kutambaru kini semakin dikenal dan diminati di pasar lokal maupun luar daerah.

Peminat yang paling banyak yakni konsumen dalam negeri, misalnya Aceh. Tetapi salak dari kelompok ini juga diekspor ke Malaysia dan Thailand.

Adapun panen dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan hasil mencapai 1-1,5 ton sehingga omzet yang dihasilkan mencapai Rp30 juta per bulan.

Baca Juga: Corelab BRI Journalism 360, Ajak Mahasiswa Bincang Bisnis Era Digital di Kampus FISIP UNDIP Semarang

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X