Presiden AS Donald Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump bahkan menuntut Teheran memberikan kompensasi kepada Amerika Serikat.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat menyatakan bahwa kesepakatan baru terkait Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang membuat arus pelayaran kembali normal.
Kapal yang Melintas Selat Hormuz Masih Minim
Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran menjadi perhatian utama pasar minyak. Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin.
Baca Juga: Bukan Cuma Populer, Kinerja Seskab Teddy Tembus 3 Besar Terbaik di Kabinet Versi IPO
Angka tersebut jauh di bawah kondisi sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Saat itu, lebih dari 130 kapal tercatat melintasi jalur strategis tersebut.
Meski demikian, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih berada pada rata-rata tujuh hari sekitar 9 juta barel per hari. Menurutnya, angka tersebut terbantu oleh kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.
Jika aliran minyak melalui jaringan pipa turut diperhitungkan, total ekspor minyak dari kawasan Teluk disebut mencapai rata-rata sekitar 15 juta barel per hari.
Di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi tekanan dari sisi cadangan minyak strategis. Data Departemen Energi AS menunjukkan stok Strategic Petroleum Reserve (SPR) telah turun di bawah 300 juta barel.
Baca Juga: Kabar Gembira Buat Driver! Pemerintah Kebut Finalisasi Perpres Ojol, Siap Terbit Sebelum 17 Agustus
Level tersebut menjadi yang terendah dalam lebih dari 40 tahun.
Penurunan stok terjadi setelah Presiden Trump memerintahkan pelepasan 172 juta barel minyak pada Maret lalu. Kebijakan tersebut ditempuh untuk membantu mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Pemerintah AS juga mengambil langkah lain dengan memperpanjang penangguhan aturan pelayaran Jones Act. Namun, pengecualian tersebut dipersempit dan hanya diberlakukan bagi kapal yang mengangkut komoditas energi tertentu.
Baca Juga: Gegara Ban Selip Jelang Finis, Mobil Modifikasi Balap di Kotamobagu Renggut 8 Nyawa Penonton
Kondisi geopolitik, rendahnya aktivitas kapal di Selat Hormuz, serta menipisnya cadangan minyak strategis AS membuat pasar energi masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian.
Jika ketegangan AS-Iran berlanjut dan jalur pelayaran belum kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dunia berpotensi terus berlanjut. ***
Artikel Terkait
Detik-detik Tragis Siswi SMA Tewas Terlindas KRL Jurangmangu, Tinggalkan Unggahan Pilu di Medsos
Babak Baru Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis, Kejagung Cecar 12 Saksi Kunci
Ekshumasi Jenazah Sutrimo Digelar Hari Ini, Polisi Buru Petunjuk di Balik Kematian Misterius
Tragis! Kapal MV Tihamah Diserang Rudal Houthi, 1 WNI Dikabarkan Tewas
Brigadir Imansyah Dipatsus Propam Polda Sumut Usai Winda Lorenza Gowasa Meninggal, Ini Alasannya
Kesal Jadi Korban Bully di Kantor, Pegawai Diskominfo Kukar Nekat Bakar Ruang Rapat