Seorang penasihat Ketua Parlemen Iran, Mehdi Mohammadi, yang bekerja dengan Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut langkah Trump tidak memiliki kredibilitas. Ia menilai keputusan tersebut hanya taktik untuk mengulur waktu sebelum kemungkinan serangan lanjutan.
“Perpanjangan ini tampaknya hanya strategi untuk mempersiapkan kejutan militer,” ujarnya melalui media sosial.
Sementara itu, Trump juga mengklaim bahwa Iran tengah mengalami ketegangan internal akibat konflik berkepanjangan. Ia bahkan menyebut adanya perubahan dalam kepemimpinan negara, termasuk spekulasi terkait posisi Ali Khamenei.
Baca Juga: Mobil Travel Ugal-ugalan di Tol Purbaleunyi Viral, Sopir Akhirnya Minta Maaf dan Ditilang Polisi
Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Perpanjangan gencatan senjata ini memang membuka peluang bagi jalur diplomasi, tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan.
Tanpa persetujuan resmi dari semua pihak yang terlibat, kesepakatan ini berpotensi rapuh dan sulit dipertahankan.
Dengan ketegangan yang masih tinggi dan posisi masing-masing negara yang belum sepenuhnya sejalan, masa depan perdamaian antara AS dan Iran masih berada dalam ketidakpastian. ***
Artikel Terkait
RI Gandeng Polandia, Kerja Sama Pertanian Didorong untuk Hadapi Ancaman Pangan Global
Siswa SD Jatuh dari Gedung 3 Lantai di Bali, Kondisi Korban dan Kejanggalannya Terungkap
Uya Kuya Buka Sayembara Ungkap Penyebar Hoaks 750 Dapur MBG, Siapkan Hadiah Tunai
Prancis Bantu Lebanon Negosiasi dengan Israel, Emmanuel Macron Siapkan Dukungan Penuh