Pemerintah Terapkan WFH usai Lebaran 2026, Publik Teringat Momen Krisis BBM era 1974

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Senin, 23 Maret 2026 | 11:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI - Airlangga Hartarto (Kiri).  (Foto: Dok Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI - Airlangga Hartarto (Kiri). (Foto: Dok Kemenko Perekonomian)

Sementara Qatar, yang memproduksi 20 persen Liquified Natural Gas (LNG) global, telah menghentikan produksi sepenuhnya.

"Bagi sebagian besar warga Amerika, naluri pertama adalah menyaksikan angka di SPBU naik dan merasa tidak berdaya," ungkap Fortune dalam artikelnya yang tayang pada 15 Maret 2026.

"Tetapi bagi orang-orang di atas 65 tahun (kelahiran 1960-an), momen saat ini membawa jenis ketakutan yang berbeda," sambungnya.

Menurut catatan sejarah, hal ini terkait dengan krisis energi global yang pernah terjadi di 1970-an.

Baca Juga: Viral Mudik Lebaran 2026: Tebak-tebakan di Kaca Mobil Bikin Perjalanan Jadi Hiburan Tak Terduga

Negara Arab Embargo AS usai Perang Yom Kippur
Dalam laporan yang sama, pada Oktober 1973, negara-negara Arab anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mengumumkan embargo terhadap AS.

Hal tersebut, dinilai sebagai balasan atas dukungan militer terhadap Israel selama Perang Yom Kippur pada tahun yang sama.

"Saat itu, mereka tidak hanya menaikkan harga tetapi mereka juga mengurangi pasokan energi," tulis Fortune.

Sebagai informasi, Perang Yom Kippur (6-25 Oktober 1973) adalah konflik bersenjata antara Israel dan koalisi negara Arab (Mesir dan Suriah) yang terjadi pada hari suci Yahudi Yom Kippur dan bulan Ramadhan.

Baca Juga: Akhirnya Keenan Nasution Cabut Kasasi Lagu Nuansa Bening, Ini Alasan Akhiri Sengketa dengan Vidi Aldiano

Perang ini, yang juga dikenal sebagai Perang Oktober atau Perang Ramadan, bertujuan merebut kembali wilayah yang diduduki Israel dalam Perang 6 hari di tahun 1967 silam.

"Dalam beberapa minggu, harga bensin di SPBU melonjak 40 persen hanya dalam 1 bulan," ungkap Fortune.

"Pada pertengahan 1974, harga efektif telah meningkat 3 kali lipat, dan ketersediaan bahan bakar runtuh (pada masa itu)," tambahnya.

Kini, ketegangan di Timur Tengah berdampak langsung pada perdagangan energi global.

Risiko gangguan di jalur vital seperti Selat Hormuz di Iran, dinilai telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak mentah. ***

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X